Gubernur Bengkulu dan Istri Ditangkap KPK terkait Suap Proyek Jalan

Digiring KPK: Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istri, Lili Madari tiba di Gedung KPK setelah terjaring OTT di Bengkulu, Selasa (20/6) siang.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti tiba di markas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa sore (20/6). Ketua DPD Partai Golkar itu terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) siang tadi dengan barang bukti sejumla uang yang disimpan dalam kardus ikut disita KPK.

Ridwan yang mengenakan kemeja putih dengan kopiah di kepalanya bergegas masuk gedung Rasuna Said tanpa menjawab pertanyaan awak media. Beberapa menit kemudian, tiga orang pihak swasta yang diduga penyuap dan ikut terjaring OTT menyusul di belakang Ridwan.

Gelombang terakhir, ada istri Ridwan, Lili Madari yang menyusul sang suami masuk ke ruang pemeriksaan. Perempuan berkerudung hijau itu tampak malu dengan sorotan kamera wartawan dan langsung masuk ke dalam gedung KPK tanpa berkomentar apapun.

Mereka diketahui tertangkap tangan Tim Satgas KPK, diduga setelah melakukan transaksi. KPK juga turut mengamankan sejumlah uang yang di masukan ke dalam kardus.

Ketua KPK Agus Rahardjo saat dikonfirmasi sempat menyebut penangkapan Ridwan terkait kasus suap proyek jalan di Bengkulu.

“Itu kayaknya peningkatan jalan. Suap mungkin,” ujar Agus di kompleks PTIK, Jakarta, Selasa malam.

Namun, tidak dijelaskan proyek jalan di mana dan mekanisme suapnya. Agus mengaku tidak mengetahui detil karena baru dapat informasi melalui telepon. Saat ini, KPK akan melakukan gelar perkara untuk menentukan status Ridwan dan empat orang lainnya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah bersikap serupa. Ia belum bisa mengkonfirmasi ihwal kasus suap yang melatari penangkapan Ridwan dan istrinya.

Menurut Febri, pihaknya juga belum bisa menyampaikan secara rinci mengenai jumlah uang serta terkait proyek apa dalam operasi senyap ini. “Besok baru kita melakukan konferensi pers, menjelang siang,” tuturnya.

Ia menyatakan, kelima orang tersebut bakal langsung menjalani pemeriksaan intensif. Menurutnya, pihaknya memiliki waktu maksimal 1×24 jam sebelum memutuskan status hukumnya.

“Tentu kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut dan KPK punya waktu 1×24 jam untuk tentukan status lima orang tersebut,” kata Febri.

Selain mengamankan lima orang, lembaga antirasuah ini juga turut mengamankan sejumlah uang yang disimpan di dalam kardus. Belum diketahui pasti berapa jumlah uang tersebut.

“Tim juga mengamankan sejumlah uang dalam mata uang rupiah di dalam sebuah kardus,” ungkapnya.

Namun informasi yang disampaikan Direskrimum Polda Bengkulu Kombes Pol Herman menyebutkan Ridwan menerima suap sebesar Rp 1 miliar dari kontraktor. Pihak Polda Bengkulu dilibatkan untuk pengamanan dalam OTT KPK ini.

“Sebenarnya ini ranah KPK, dia ditangkap diduga menerima suap dari kontraktor untuk pengerjaan proyek. Tim KPK telah membawa Lili ke Jakarta,” kata Herman. (cni/gbi)