Gunung Agung Meletus, 309 Warga Mengungsi, 40 Ribu Wisatawan Tertahan

oleh
Gunung Agung yang meletus.

GLOBALINDO.CO, BALI – Letusan Gunung Agung membawa dampak cukup hebat bagi denyut kehidupan di Bali. Sedikitnya 309 warga mengungsi dan 40 ribu wisatawan yang hendak ke Bali gagal masuk.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, 309 warga di sekitar Gunung Agung telah mengungsi.

“Masyarakat yang mengungsi berada di tiga titik pengungsian, yaitu di Dusun Tegeh, Desa Amerta Bhuana; Banjar Dinas Galih, Desa Jungutan dan Banjar Desa Untalan, Desa Jungutan di Kabupaten Karangasem,” kata Sutopo, Jumat (29/6/2018).

Daerah sejauh empat kilometer dari puncak kawah tetap dinyatakan sebagai wilayah berbahaya. Masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Agung telah mengungsi secara mandiri.

Sutopo mengimbau masyarakat tetap tenang. BNPB terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan; Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG); Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG); badan penanggulangan bencana daerah, Pemerintah Provinsi Bali, dan lainnya.

Berdasarkan pantauan di Pos Pengamatan Gunung Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Rendang pada Jumat pukul 06.00 WITA, Gunung Agung masih mengeluarkan abu vulkanik dan kawah menyala api berwarna kemerahan berintensitas stabil dengan tinggi kolom abu mencapai 2.500 meter.

Teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam tempo 12 jam terakhir. Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang dimanifestasikan di permukaan dengan hembusan mengeluarkan emisi gas dan abu vulkanik.

“Hujan abu terjadi di beberapa daerah di Barat dan Barat Daya Gunung Agung. Wilayah yang terpapar abu sementara terjadi di wilayah Purage, Pempatan Rendang, Keladian, Besakih, Banjar Beluhu, Desa Suter karena dominan angin dan abu mengarah ke barat,” tuturnya.

Secara deformasi teramati inflasi sejak 13 Mei 2018 dengan kenaikan sekitar lima milimeter. Hal itu menunjukkan masih ada pembangunan tekanan oleh magma di dalam tubuh Gunung Agung.

“Hingga saat ini, inflasi tubuh Gunung Agung masih belum mengalami penurunan,” jelas Sutopo.

Sementara itu, Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, setidaknya ada 40.000 wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan lokal terkena dampaknya.

“Jadi bandara Bali ditutup mulai jam 03.00-19.00, dampaknya sudah dihitung sehari itu rata-rata kedatangan di Bali atau kepergian 40.000, kira-kira dengan jangka waktu 4 hari dampak orang yang stranded (tertahan) itu sekitar 160.000,” kata Arief.

Dia bilang, mitigasi yang dilakukan kepada para wisatawan terdampak aktivitas vulkanis Gunung Agung melalui fasilitas yang bisa didapatkan para wisatawan selama aktivitas tersebut masih berlangsung. Mulai dari penginapan gratis hingga layanan melalui titik yang masih bisa dioperasikan, seperti pelabuhan untuk menuju bandara di wilayah luar Bali.

Arief belum bisa menjelaskan seberapa besar dampak letusan Gunung Agung terhadap kunjungan wisatawan, namun yang pasti target Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tak tercapai.

“Berapa total kerugiannya, kita belum tahu, tetapi yang tahun lalu totalnya itu se-Indonesia 1 juta, sehingga kelihatan target Kemenpar tidak tercapai, dari 15 juta kita sudah confidence 3 bulan terakhir kena, itu total 1 juta,” terang Arief.

Dia menambahkan, jumlah normal atau rata-rata wisman di Bali per harinya 20.000 dan jumlah turis domestik pun sama 20.000 per hari. Arief berharap, pelayanan dan mitigasi dari kejadian tersebut bisa berjalan lebih lancar dan baik.

“Bencana seperti ini bisa terjadi di semua negara, tapi bagaimana kita memitigasinya. Alhamdulillah lancar, pada jam 00.05 untuk memutuskan ditutup atau tidak keputusannya ditutup, lalu tadi pagi rapat untuk melayani wisatawan yang stranded di Bali,” tutur Arief.(ara/dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *