Henry Janji Pedagang Pasar Turi Bisa Miliki Sertifikat Strata Title

oleh
Ketua Perhimpunan Pedagang Pasar Turi Baru (P3TB), Muhammad Taufik Al-Djufri bersaksi di sidang terdakwa Henry J Gunawan di PN Surabaya, Rabu (31/1).

GLOBALINDO.CO,SURABAYA – Kasus penipuan yang menjerat bos PT Gala Bumi Perkasa Henry J Gunawan semakin terbongkar. Fakta persidangan menunjukkan terdakwa Henry telah berdusta dengan merayu para pedagang Pasar Turi agar membeli stand dengan janji akan memperoleh sertifikat strata title senilai Rp 1 miliar.

Henry selaku bos PT GBP yang memenangkan tender pembangunan Pasar Turi baru memberi janji manis kepada para pedagang yang bersedia membeli dan membayar biaya sertifikasi akan menjadi kaya. Sebab, sertifikat strata title bisa diagunkan ke bank yang nilainya bisa mencapai Rp 1 miliar.

“Karena itu, saya bersedia membayar lunas kewajiban saya sebagai pembeli stand, diantaranya Sertifikat senilai 10 juta rupiah, BPHTB 5 persen dari harga stand, biaya Notaris 1,5 juta rupiah dan PPN 10 persen serta dilanjutkan PPJB dengan PT GBP,” terang Ketua Perhimpunan Pedagang Pasar Turi Baru (P3TB), Muhammad Taufik Al-Djufri.

Taufik menjadi saksi dalam sidang kasus tipu gelap dengan terdakwa Henry J Gunawan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (31/1).

Pria yang akrab dipanggil Taufik ini mengatakan, aksi penipuan Henry dilakukan usai PT GBP memenangkan tender pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi Baru dari Pemkot Surabaya. Pasar Turi baru dibangun setelah persitiwa kebakaran.

Atas kemenangan tender pembangunan dan pengelolahan Pasar Turi Baru itulah, Henry akhirnya mengumpulkan para pedagang di Hotel Mercure sebanyak dua kali, yakni pada 26 Februari 2013 dan 4 Maret 2013. Para pedagang yang tergiur janji manis Henry, rela menyetor sejumlah duit yang diminta agar bisa memiliki dan memperoleh sertifikat stand.

Namun setelah beberapa bulan, janji Henry tak kunjung terwujud. Akhirnya pada pertengahan 2014 Para Pedagang pun akhirnya menemui Walikota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menanyakan terkait status sertifikat strata title tersebut.

Kepada para pedagang saat itu, Risma menegaskan bahwa Pasar Turi Baru tidak mungkin bisa mendapatkan hak stata title itu.

“Kami langsung ditemui Bu Risma, tapi apa yang dijanjikan terdakwa Henry terkait status starta title itu tidak benar dan mengapa kok tetap saja dijual, padahal itu belum menjadi haknya, karena baru HGB atas HPL,”kata Taufik.

Atas keterangan Risma itulah, akhirnya saksi Taufik bersama para pedagang lainnya mendatangi Kantor PT GBP untuk mengklarifikasi keterangan Risma. Saat itu terdakwa Henry justru mengusir saksi Taufik dan para pedagang lainnya untuk keluar dari kantornya.

“Dia bilang, sudah gak usah ngurusin strata title bukan urusanmu, keluar..keluar,”terang Taufik menirukan gaya Henry saat mengusirnya bersama para pedagang lainnya.

Keterangan saksi Taufik dibantah terdakwa Henry, yang mengaku tidak pernah mengenal dan bertemu di Kantornya serta tidak pernah mengatakan hal-hal yang disampaikan saksi. Bahkan Henry bertanya balik ke saksi Taufik apakah tiap bulan ada pembayaran pajak,pembayaran listrik.

“Belum menjadi kewajiban saya untuk membayar, karena belum diserah terimakan,”sahut Taufik menjawab pertanyaan Henry.

Selain itu, Taufik menambahkan, PPN yang dibayarkan ke PT GBP tidak pernah diberikan bukti tanda terima pembayaran pajak itu. Tapi Henry justru membalik dan mengatakan jika Dia tidak pernah diminta, makanya tidak diberikan ke saksi. “Wong gak minta kok,”cetus Henry yang langsung disoraki pengunjung sidang.

Karena merasa tidak pernah menerima bukti pembayaran pajak tersebut, saksi Taufik akhirnya bertanya lisan ke Kantor Pajak. Dan ternyata PT GPB belum pernah meyetorkan atas PPN jual beli stand yang dibeli saksi maupun pedagang lainnya. “Orang pajaknya nunjukan bukti, kalau memang pajaknya belum pernah disetorkan,”terang Taufik diakhir keterangannya.

Seperti diketahui, Taufik adalah salah satu korban tipu gelap terdakwa Henry yang telah membeli sejumlah stand di Pasar Turi Baru. Dia membeli 9 stand dan sudah dibayar lunas sebanyak 8 stand senilai 2,3 miliar rupiah, belum termasuk biaya pungutan sertifikat hak kepemilikannya, senilai 338 juta rupiah.

Tak hanya Taufik, terdakwa Henry juga menipu 20 orang pedagang Pasar Turi Baru Lainnya, yang sudah membayar lunas dari kewajiban mereka.

Tak tangung-tanggung, hasil penipuan dengan modus biaya pungutan sertifikat hak milik atas kios pedagang yang didapat terdakwa Henry mencapai Rp 1.013. 944.000 (satu miliar, tiga belas juta, sembilan ratus empat puluh empat ribu rupiah)

Atas perbuatanya, Terdakwa Henry didakwa JPU telah melanggar pasal pasal 378 KUHP tentang penipuan dan pasal 372 tentang penggelapan. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *