Henry Tak Pernah Akui Tanahnya Sudah Laku, Saksi Sepakat Beli Rp 10,5 M

Empat orang saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum di sidang kasus penipuan dengan terdakwa Henry J Gunawan di PN Surabaya, Senin (13/11), yakni Yudi Alfian Tedjo dan Ane Tandio selaku pihak pembeli. Serta dua saksi dari pihak terdakwa yakni, Notaris Hengky Budi dan mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA –  Bos PT Bumi Gala Perkasa (GBP), Henry J Gunawan kian tersudut. Keterangan empat saksi semakin menguatkan dakwaan jaksa terkait aksi penipuan Henry dalam jual beli tanah seluas 1.934 M2 senilai Rp 10,5 miliar.

Empat saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum pada sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (13/11) yakni Yudi Alfian Tedjo dan Ane Tandio selaku pihak pembeli. Serta dua saksi dari pihak terdakwa yakni, Notaris Hengky Budi dan mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Unggul Mukti Warso, saksi Yudi menjelaskan bahwa mulanya ia ditawari obyek tanah berstatus SHGB No 66 oleh seorang bernama Budi (teman dekat terdakwa Henry). Karena berminat dengan tawaran itu, Yudi pun bersepakat dengan Budi agar dipertemukan langsung dengan Henry.

“Saya minat lalu saya ditemukan dengan Henry, ketemu di kantornya di Jalan Putat Surabaya” terang saksi Yudi dalam sidang di Ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (13/11). Yudi merupakan perantara yang dipercaya Iwan dan Ane Tandio (berkongsi) untuk mengurus transaksi jual beli tanah dengan Henry.

Yudi melanjutkan dalam pertemuan itu, terdakwa Henry minta harga Rp 10,5 miliar tanpa dipotong pajak (PPN). Tanpa berpikir panjang, Yudi yang dipercaya Iwan untuk melakukan transaksi jual beli tanah itu langsung menyetujui penawaran Henry.

“Setelah itu Henry menunjuk notaris Hengky untuk cek keabsahan surat dan membuat perjanjian pengikatan jual beli (PPJB),” jelasnya.

Menurut Yudi, penandatangan PPJB di Kantor Notaris Hengky disaksikan beberapa orang, termasuk Henry dan istrinya. Hanya Iwan yang saat itu tidak bisa hadir karena sedang ada kepentingan lain dan penandatangan PPJB dikuasakan kepada Yudi.

Saksi menjelaskan bahwa dalam akte perjanjian Pengikatan jual beli Nomor 3 dan Akte Kuasa Jual Nomor 5 itu, terdakwa Henry disebutkan menjabat sebagai Direktur di PT GBP.

Tetapi belakangan, pihaknya sangat terkejut saat mengetahui tanah senilai Rp 10,5 miliar itu ternyata sudah dijual kepada pihak lain yakni Hermanto.

“Saat menjual Henry tidak pernah memberi tahu pada saya kalau tanah tersebut sebelumnya telah dijual pada Hermanto,” ujar saksi Yudi menjawab pertanyaan JPU Ali Prakoso.

Kesaksian Yudi rupanya membuat Henry dan dua saksi yang ada di pihaknya, Ane dan Hengky, tak berkutik. Mereka hanya mengamini keterangan Yudi.

Jaksa Berang Anak Buah Henry Banyak Berkelit

Sementara saksi lain, mantan Dirut PT GBP, Raja Sirait yang cenderung berbelit dalam memberikan keterangan membuat JPU Ali Prakoso naik pitam. Awalnya, Sirait mengaku tidak mengenal Hermanto melainkan hanya mengenal Heng Hoek Soei alias Asoei.

Kemudian, Sirait tidak bisa memastikan perihal perjanjian seperti tertuang dalam Akte PPJB Nomor 5 dan Akte Kuasa Jual Nomor 6 yang dia teken. Setahu dia, PPJB itu adalah perjanjian kerjasama dengan Asoei.

“Saya tanyakan pada Yuli, staf legal PT GBP katanya ada perjanjian kerjasama, antara GBP dengan Asoei,” ujar orang kepercayaan Henry J Gunawan ini.

Sontak keterangan ini membuat jaksa Ali Prakoso sedikit berang. “Loh saksi kan yang menandatangani akte perjanjian, kok malah tanya sama staf,” tanya jaksa Ali pada saksi Raja Sirait.

Mendengar sanggahan jaksa, saksi Sirait masih berkelit. Ia mengaku agak lupa karena sering menjalin perjanjian kerjasama dengan Asoei. (Baca: Terungkap, Ini Peran Teguh Kinarto dan Heng Hok Soei dalam Kasus Henry).

“Kita sering kerjasama dengan Asoei. Untuk hotel, Apartemen, Kondominium dan Rumah Sakit, ” jawab Sirait.

Jawaban saksi ini sontak membuat jaksa Ali Prakosa kian berang. “Anda ini bagaimana, tidak tahu bidang kerjasamanya, kok bikin perjanjian. Ingat Saudara saksi sudah disumpah ” tegas jaksa Ali.

Untuk menghentikan kesaksian berbelit dari Sirait, jaksa Ali kemudian menunjukan bukti dokumen perjanjian PPJB dan Pengalihan Kuasa di muka persidangan. PPJB itu jelas diteken oleh Raja Sirait selaku Dirut PT GBP.

“Iya, itu tanda tangan saya,” jawab Raja Sirait saat ditunjukan bukti tersebut.

Terdakwa Henry pun tak membantah keterangan Raja Sirait, “Iya benar,” ucap terdakwa Henry saat dikonfrontir oleh hakim Unggul.

Hakim akhirnya menunda sidang hingga sepekan mendatang. Agenda sidang berikutnya mengagendakan keterangan saksi verbal dari penyidik Polrestabes Surabaya.

Kesaksian dari penyidik Polrestabes untuk mengkonfrontir keterangan saksi pada sidang sebelumnya, Li You Hin. Dalam keterangannya, Li You Hin mengelak isi BAP yang ditanyakan jaksa.

Menurutnya, BAP itu tidak sesuai dengan fakta dan keterangannya ke penyidik. Ia mengklaim BAP itu telah direkayasa oleh penyidik dan bekas pengacaranya.

Sekadar mengingatkan, terdakwa Henry J Gunawan diseret ke meja hijau berdasar laporan Notaris Caroline C Kalampung. Pelapor dan kliennya, merasa ditipu oleh Henry dalam transaksi jual beli tanah seluas  1.934 M2.

Menurut Caroline, kliennya sudah sepakat dengan Henry untuk membeli tanah itu dengan harga Rp 4,5 miliar. Namun setelah uang dibayarkan, kliennya tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Saat korban ingin mengambil haknya, Henry malah berkelit SHGB tersebut sudah dibawa Caroline. Caroline sendiri mengaku bahwa SHGB itu memang pernah diserahkan kepadanya, tetapi telah diambil lagi oleh seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. (Baca: Bantah Keterangan Hermanto, Henry: PT GBP Tidak Terima Satu Rupiah Pun).

Belakangan, SHGB itu ternyata oleh Henry, dijual lagi ke orang lain yakni Iwan melalui perantara Yudi Alfian Tedjo dengan harga Rp 10,5 miliar. (ady)