Hillary: Jika Terpilih, Trump Bisa Ledakkan Perang Nuklir

Persaingan dua kandidat calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton (Partai Demokrat) dan Donald Trump (Partai Republik) semakin sengit dan panas.

Persaingan dua kandidat calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton (Partai Demokrat) dan Donald Trump (Partai Republik) semakin sengit dan panas.

GLOBALINDO.CO, SAN DIEGO – Persaingan Hillaru Clinton dengan Donald Trump memperebutkan kursi Presiden Amerika Serikat semakin panas. Hillary kini berani menuding pesaingnya dari Partai Republik itu sebagai kandidat yang bisa memicu perang nuklir jika terpilih sebagai orang nomor satu di AS.

Alasan tudingan Hillary tadi cukup sederhana. Karena tipikal Trump yang sangat sensitif dan reaktif.

“Ide-ide Trump tidak hanya berbahaya, namun juga membingungkan. Itu semua bahkan tidak benar-benar sebuah ide, melainkan hanya omong kosong, dendam pribadi, dan kebohongan,” ujar Hillary dalam kampanyenya di San Diego seperti dikutip Reuters, Jumat (3/6).

Mantan Menlu AS itu diprediksi akan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat dan berhadapan dengan Trump dalam babak final pemilu AS yang digelar 8 November mendatang. Prediksi tersebut menguat meski pemilihan primary sendiri baru akan dilaksanakan pada 7 Juni mendatang.

Tak hanya sampai di situ, Trump bahkan berniat duduk dan bicara dengan Kim Jong-un ntuk meminta negara itu menghentikan program nuklirnya. Kesemuanya itu, dibantah Clinton. Menurutnya, ia sanggup menjaga AS lebih baik dari yang dapat dilakukan Trump, membandingkan kebijakannya dengan Trump sebagai dua visi yang sangat berbeda.

“Yang satunya adalah kemarahan, ketakutan dan mendasari gagasannya bahwa AS secara fundamental lemah dan kecil. Sementara yang satunya adalah harapan, dermawan, dan percaya diri bahwa AS adalah negara besar, seperti yang selalu kita yakini,” tegas Clinton.

Kehadiran Trump di panggung politik AS, terlebih kemampuannya meraih perolehan dukungan yang membuatnya menjadi satu-satunya kandidat capres AS telah mengejutkan banyak pihak, termasuk kalangan elite Demokrat. Bagaimana tidak, Trump berhasil melumpuhkan 16 pesaingnya dan kini ia terus melaju dengan percaya diri.

Hillary mengaku tak pernah gentar dengan kepopuleran dan kekayaan Trump yang menjulang.

“Dia bilang dia punya pengalaman kebijakan luar negeri karena ia menjalankan kontes Miss Universe di Rusia. Dia akan menjalankan ekonomi AS seperti menjalankan salah satu kasinonya,” kata istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu yang disambut dengan sorakan tertawan pada pendukungnya.

Menurut ibu dari Chelsea Clinton itu, Trump akan menanggapi pernyataannya dengan cepat melalui akun Twitternya. Dan benar saja, tak lama setelah mengucapkan hal itu.

Di tengah tawa penonton, Hillary sempat menceritakan pengalamannya ketika menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, khususnya perannya ketika ia terlibat dalam misi perburuan terhadap pemimpin Taliban, Osama bin Laden. Ia menekankan, AS butuh pendekatan kebijakan luar negeri yang lebih serius.

“Dia (Trump) memuji seorang diktator seperti Vladimir Putin dan menyerang pihak yang selama ini menjadi teman kita seperti PM Inggris, Wali Kota London, Kanselir Jerman, Presiden Meksiko, dan Paus Fransiskus,” jelas Clinton.

Pernyataan serupa pernah dilontarkan Barack Obama. Ia menyebut Trump bodoh dan angkuh terkait hubungan internasional bahkan Presiden AS itu mengatakan bahwa melejitnya posisi Trump telah mengejutkan para pemimpin dunia.

Tak berselang lama,  Trump membalas hujan kritikan kepadanya melalui akun twitter pribadi.

“Penampilan yang buruk dari ‘Crooked Hillary Clinton!”, tulis akun Twitter miliader itu.

Tak hanya itu, Trump juga menulis, “Dia tidak bisa membaca telepromter! Dia bahkan tidak terlihat layak sebagai seorang presiden!”.

Trump juga sempat menuduh bahwa Hillary telah mendistorsi kebijakannya yang sebenarnya.

Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan, Trump memang menjelaskan kebijakan luar negerinya jika ia terpilih menduduki kursi orang nomor satu di Negeri Paman Sam. Ia menegaskan akan memberlakukan kembali interogasi waterboarding dan sejumlah teknik brutal lainnya terhadap tersangka terorisme — selama era Obama teknik interogasi brutal telah dihentikan.

Sosok kontroversial itu juga bersumpah akan menegosiasikan kembali sejumlah kesepakatan perdagangan, menyerukan larangan umat Islam untuk masuk ke AS, dan meminta ‘bayaran’ dari 28 negara anggota NATO — yang jika tidak bersedia membayar dipersilahkan ‘keluar’. (ret/gbi)