Hillary Sebut Trump Kandidat Presiden Paling Berbahaya dalam Sejarah AS

Dua calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton dan Donald Trump berhadapan dalam perhelatan debat terakhir, yang digelar Rabu malam, atau Kamis (20/10/2016) pagi, di Universitas Nevada.

Dua calon Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton dan Donald Trump berhadapan dalam perhelatan debat terakhir, yang digelar Rabu malam, atau Kamis (20/10/2016) pagi, di Universitas Nevada.

GLOBALINDO.CO, WASHINGTON – Perdebatan memanas setelah kedua kandidat dipertemukan, calon presiden Amerika Serikat  Donald Trump dan Hillary Clinton saat bertemu yang ketiga kalinya atau terakhir jelang pemilihan presiden 8 November 2016.

Sejumlah isu mewarnai debat tersebut, diantaranya isu tentang hubungan Trump dan Rusia. Pada salah satu kesempatan Hillary ditanya terkait salah satu emailnya yang bocor dan dirilis WikiLeaks.

Kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Hillary Clinton juga menilai, rivalnya dari Partai Republik, Donald Trump sebagai kandidat presiden paling berbahaya dalam sejarah AS.

Komentar Hillary ini terlontar dalam perdebatan yang digelar di Kampus Universitas Nevada, Las Vegas, Kamis pagi WIB (20/10/2016).

Didalam debat tersebut Hilary juga mengecam Trump memiliki peran dalam kebocoran email yang dialamatkan padanya. Dengan mengajak Rusia atau kekuatan asing lain campur tangan dalam pemilu AS.

Trump menanggapi pernyataan Hilary dengan menegaskan bahwa dia tak mengenal Presiden Rusia Vladimir Putin. “Saya tidak mengenal Putin, tapi jika nanti kami menjalin kerjasama, itu akan menjadi hal yang baik,” ujar Trump seperti di lansir mashable.com Kamis, 20 Oktober 2016.

Lebih lanjut lagi Trump juga menolak tudingan dari Hillary mengatakan bahwa Rusia telah berusaha memengaruhi pemilu Amerika Serikat. Trump spontan membantah tuduhan yang menyatakan perannya dalam kebocoran email tersebut. Ia mengatakan, insiden tersebut menggambarkan bahwa itu merupakan tanda negara asing tak lagi menghormati AS.

Hilary menyela, “Karena Putin lebih suka memiliki boneka yang menjabat sebagai Presiden Amerika.” Merasa disudutkan spontan Trump menjawab, “Tidak, Andalah yang boneka.” (tm/tbj/nh)