Ini Alasan Jokowi Restui Duet Pentolan Golkar Jabat Menteri

oleh
Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham menerima berkah diangkat sebagai Menteri Sosial oleh Presiden Joko Widodo menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang maju sebagai bacagub Jatim 2018. Dilantinya Idrus sebagai Mensos melengkapi duet petinggi Partai Golkar bersama Ketum Airlangga Hartanto sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja.
Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham menerima berkah diangkat sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa oleh Presiden Joko Widodo . Dilantiknya Idrus sebagai Mensos melengkapi duet petinggi Partai Golkar bersama Ketum Airlangga Hartanto sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Banyak pihak menganggap Presiden Joko Widodo mengingkari janjinya karena mempertahankan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto yang merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Namun Jokowi masih saja berkilah, bahwa Airlangga patut dipertahankan karena punya kapabilitas dan menunjukkan kinerja optimal selama menduduki kursi Menperin sejak dilantik pada 27 Juli 2016 lalu.

“Kita lihat memang di Menperin pak Airlangga ngerti betul yang berkaitan dengan makro konsep makro industri di negara kita, hilirisasi ke depan seperti apa,” ujarnya yang ditemui seusai pelantikan Mensos baru dengan sisa masa jabatan periode 2014-2019 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/1).

Menurut Jokowi, posisi Airlangga berbeda dengan Khofifah Indar Parawansa  yang harus meletakkan jabatannya sebagai Menteri Sosial lantaran maju sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur 2018. Meski reshuffle jabatan Mensos kali ini kental nuansa barter politik. (Baca: Golkar Cemari Kabinet Kerja Jokowi).

Presiden Jokowi menunjuk Sekjen Partai Golkar, Idrus Marham sebagai Menteri Sosial. Ini merupakan pertama dalam sejarah pemerintahan di mana ketua umum dan sekjen parpol bisa menduduki kursi menteri dalam satu kabinet.

Jokowi mengatakan, memilih menteri baru harus mempertimbangkan banyak hal. Di antaranya kemampuan yang dimiliki calon menteri. Sejauh ini, sosok mantan Ketua Komisi VI DPR RI itu memang masih layak memimpin Kemenperin.

“Ini kementerian yang tidak mudah. Apalagi ini kan tinggal satu tahun (periode kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla) saja praktis ini kita. Kalau ditaruh orang (Menteri Perindustrian) baru, ini belajar bisa 6 bulan kalau enggak cepat bisa setahun kuasai itu,” terangnya. (med/adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *