Ini Cara Pemkot Surabaya Tangani Ribuan PMKS di Liponsos Keputih

oleh
Para PMKS dikumpulkan di halaman Balaikota Surabaya, sebelum dipulangkan ke daerah asal.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Jumlah penghuni Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih, ternyata cukup banyak. Menurut Kasi Rehabilitasi Anak dan Tuna Sosial Dinas Sosial Kota Surabaya, Sunarko, saat ini Liponsos Keputih ditempati 1508 orang.

Tugas merehabilitasi sosial para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti gelandangan, pengemis, eks psikotik dan lansia terlantar hingga anak jalanan sebanyak itu tentu tidak mudah. Dibutuhkan tekad kuat untuk bisa melaksanakan tugas tersebut.

“Kebanyakan mereka berasal dari kota-kota tetangga Surabaya. Selain itu ada yang dari luar provinsi, bahkan dari luar pulau,” ujar Sunarko, Rabu (25/10/2017).

Sunarko menjelaskan, selain memenuhi kebutuhan dasar, pemkot juga melakukan pemeriksaan kesehatan, pembinaan mental spiritual hingga kegiatan dalam merawat para PMKS. Bahkan mereka juga dilatih keterampilan membuat handycraft.

“Produk yang dihasilkan kemudian dipamerkan dan dipasarkan,” sambung Sunarko.

Setelah mendapatkan perawatan, bagi para penghuni yang sudah mandiri dan berasal dari Surabaya, akan dikembalikan ke keluarga. Sementara bagi warga luar Surabaya, akan dipulangkan ke daerah asal atau bagi yang tidak memiliki keluarga, akan disalurkan ke Ponsos milik provinsi.

“Untuk tahun 2017, hampir setiap bulan ada PMKS yang dipulangkan ke daerah asalnya,” imbuhnya.

Untuk tugas pemulangan ini, pemkot dibantu para tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK). Cerita menarik disampaikan Koordinator TKSK Wilayah Surabaya Selatan, Wiji.

Menurut Wiji, pemulangan PMKS ini sangat sulit. Karena yang dipulangkan rata-rata penyandang masalah eks psikotik yang sulit ditanya. Untuk satu lokasi, kadang sampai harus bertanya ke 10 orang.

“Terkadang ada keluarganya yang tidak menerima. Belum lagi bila masa obatnya habis,” jelas Wiji.

Wiji mencontohkan, ada PMKS yang kencing di dalam mobil ketika hendak dipulangkan. Ada juga yang dibawa ke toilet kemudian kabur. Pernah juga ketika memulangkan PMKS ke Ngawi, karena sulit mencari lokasi, mereka baru tiba di rumah keluarga-nya pada jam 1 dini hari.

“Itupun di kawasan pegunungan sehingga untuk turun gunung harus menunggu pagi,” ceritanya.

Namun, yang paling dia ingat adalah saat mengantarkan PMKS ke Banyuwangi pada tahun 2010. Dimana saat diantarkan ke rumah ternyata PMKS tersebut telah dikira sudah meninggal oleh keluarganya.

“Orang ini kami temukan dalam kondisi gila kemudian kami rawat di Liponsos selama 1,5 tahun. Ketika kami bawa ke daerahnya, ternyata oleh keluargaya sudah dianggap meninggal karena sudah tujuh tahun tidak kembali,” kenang Wiji. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *