Ini Motif Pelaku Tayangkan Film Porno Videotron

Inilah salah satu potongan foto (capture) adegan film porno jepang di videotron di Kawasan Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, di dekat Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jumat (30/9). Video tersebut membuat heboh pengguna jalan dan diunggah di media sosial.

Inilah salah satu potongan foto (capture) adegan film porno jepang di videotron di Kawasan Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, di dekat Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jumat (30/9). Video tersebut membuat heboh pengguna jalan dan diunggah di media sosial.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Polisi masih mendalami motif Samudera Al Hakam Ralial (24), pelaku yang mengunggah film porno Jepang di videotron di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dalam pengakuannya, Samudera tak sengaja bahwa film yang ia tonton di komputer miliknya dan tersambung dengan videotron tersebut adalah video mesum.

“Saya ingin tahu saja bagaimana sistem videotron bekerja,” kata Samudera di Mapolda Metro Jaya, Rabu (5/10).  (Baca: Pengunggah Film Porno di Videotron Bobol Username dan Password).

Samudera menjelaskan, awalnya ia melihat keanehan pada videotron saat melintasi jalanan itu, Jumat, 30 September 2016, pukul 12.00 WIB. Saat itu, ia mengaku tayangan videotron menampilkan username dan password.

Karena penasaran, Samudera memfoto tampilan itu. “Biasanya videotron menayangkan iklan, tapi ini malah menayangkan layar hitam dan ada ID dan password yang enggak disensor,” kata Samudera.

Karena rasa penasaran, tersangka yang bekerja sebagai analis IT di PT Mediatrack ini langsung mencari tahu aplikasi Timeviewer yang tercantum dalam videotron tersebut dan mengunduhnya. Setelah selesai mengunduh, Samudera memasukan username dan password yang ia dapatkan dari videotron itu.

“Ternyata setelah terhubung, saya melihat layar yang berbeda dari layar yang saya abadikan tadi. Baru setelah itu saya terpikir untuk membuka situs yang biasa saya buka (situs porno),” ujarnya.

Samudera ditangkap di kantornya di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Samudera ternyata. Sebelumnya, polisi telah memeriksa sejumlah admin dari PT Transito yang merupakan penanggung jawab videotron itu.

Akibat perbuatannya, Samudera dijerat Pasal 282 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang tindak pidana asusila serta Pasal 27 ayat 1 UU Informasi, Teknologi, dan Elektronik dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp 15 miliar. (tp/gbi)