Ini Saran Komisi C Untuk Pemkot Surabaya Dalam Perawatan Bangunan Cagar Budaya

Anggota Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya, Vinsensius Awey meminta Pemerintah Kota Surabaya belajar dari negara Singapura dan Malaysia soal perawatan bangunan peninggalan sejarah (heritage).

Anggota Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya, Vinsensius Awey meminta Pemerintah Kota Surabaya belajar dari negara Singapura dan Malaysia soal perawatan bangunan peninggalan sejarah (heritage).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Anggota Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya, Vinsensius Awey meminta Pemerintah Kota Surabaya belajar banyak dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia soal perawatan bangunan peninggalan sejarah (heritage).

“Pemkot harus mampu mengelola dengan baik bangunan peninggalan cagar budaya yang ada di Surabaya. Misalnya dengan mencontoh yang dilakukan pemerintah Singapura,” ujar Vinsensius saat hearing dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Senin (9/5/2016).

Menurut dia, sebagai negera yang memiliki situs bersejarah Singapura memilih langkah cerdas dengan menyewakan bangunan bersejarah yang ada kepada pihak swasta. Meski disewakan, bangunan tersebut tidak diperbolehkan dirubah apalagi diperjual belikan.

“Semua bangunan bersejarah yang disewakan tetap menjadi milik pemerintah Singapura. Keuntungannya singapura juga mendapat uang sewa dari pihak swasta,” terangnya.

Selain Singapura, dia juga merekomendasikan Pemerintah Kota Surabaya mencontoh langkah yang diambil Pemerintah Pulau Penang, Malaysia. Dimana pemerintah setempat melibatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan dan perawatan bangunan cagar budaya.

“Kalau walikota peduli mestinya ada dana untuk perawatan bangunan cagar budaya. Faktanya kan tidak ada. Yang ada malah jatah untuk perawatan tumbuhan di taman-taman,” sindir politisi dari Partai Nasdem ini.

Tidak hanya itu, Awey sapaan Vinsensius juga menyinggung tidak adanya respon dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini terkait pembongkaran bangunan cagar budaya eks radio perjuangan yang merupakan lokasi Bung Tomo berpidato saat perjuangan kemerdekaan 10 November 1945 di Jl. Mawar 10-12, Tegalsari, Surabaya.

“Saat tamanama di Taman Bungkul walikota marah-,arah, tapi kenapa kalau soal cagar budaya kok diam saja. Padahal saat ini saya merindukan ibu walikota marah-marah,” tandas Awey.(bmb/gbi)