Ini Tujuh Kesesatan Dimas Kanjeng Versi MUI

No comment 448 views
Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng,  Taat Pribadi duduk di antara tumpukan uang pecahan Rp 100 ribu yang berjumlah miliaran rupiah. Jumlah itu belum termasuk uang yang diduga masih disembunyikan di bunker Padepokannya yang akan dibongkar polisi.

Pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi duduk di antara tumpukan uang pecahan Rp 100 ribu yang berjumlah miliaran rupiah. Jumlah itu belum termasuk uang yang diduga masih disembunyikan di bunker Padepokannya yang akan dibongkar polisi.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur menyatakan ajaran Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo sesat. Satu di antara tujuh ajaran padepokan pimpinan Taat Pribadi yang dianggap sesat oleh MUI adalah praktik penggandaan (pengadaan) duit secara instan yang berarti bertabrakan dengan iradah Allah SWT.

“Kami menemukan tujuh ajaran penyesatan,” tutur Ketua MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori di sela rapat koordinasi ormas Islam di Kantor MUI Jatim, Surabaya, Rabu (12/10). Menurutnya, kesesatan ajaran ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan MUI Jatim terhadap Padepokan Dimas Kanjeng Probolinggo.

Tujuh ajaran Dimas Kanjeng yang dianggap melenceng itu yakni pertama soal praktik penggandaan duit secara instan yang ingin menyamai iradah Allah dalam menciptakan makhluk melalui kalam “kun fayakun”.

Kedua, wirid manunggaling kawula-Gusti. Ketiga, shalawat fulus yang tidak ada dalam Islam. Keempat pengadaan bank ghaib (khurafat).

Kelima, konsep karomah tapi dipertontonkan. Keenam shalat radhiyatul qubri. Dan terakhir menyalahgunakan makna Istighatsah.

“Intinya ajaran Dimas Kanjeng itu merupakan kasus penipuan, namun dibungkus dengan kedok agama. Penipuan itu dilakukan melalui penggandaan uang. Kalau dia bisa menggandakan uang, kenapa mereka masih meminta ‘mahar’ kepada calon anggota baru. Itu tidak logis,” kata Abdusshomad.

Koordinator Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim itu, ia menjelaskan pihaknya bersama perwakilan ormas se-Jatim sudah menyepakati kasus Dimas Kanjeng merupakan kasus penodaan agama.

“Kami sudah membuat keputusan soal kasus penodaan agama terkait Dimas Kanjeng itu dalam pertemuan di Kantor MUI Jatim pada 6 Oktober 2016, lalu kami melaporkan ke MUI Pusat yang rencananya akan segera mengeluarkan fatwa,” katanya.

Namun, pihaknya menggelar pertemuan ormas Islam untuk kedua kalinya (12/10) guna menyampaikan tuntutan kasus penistaan agama. “Kasus Dimas Kanjeng bukan hanya kasus pembunuhan, penipuan, atau money laundring, tapi juga ada penodaan agama,” katanya.

Menurut Abdusshomad, penelitian pertama kasus Padepokan Dimas Kanjeng itu dilakukan MUI Probolinggo pada tahun 2014, lalu hasilnya dibahas dalam rapat di Probolinggo antara MUI Jatim, MUI Probolinggo, dan Forpimda Probolinggo pada tahun 2015.

“Kami menemukan tujuh ajaran padepokan itu yang menyimpang dari ajaran Islam, karena itu kami menilai mereka itu sesat dan menyesatkan. Namun, kasus itu sulit dibongkar, karena itu kami mencari bukti-bukti untuk membongkar kasus itu,” katanya.

Karena itu, pihaknya melapor ke MUI Pusat terkait kasus penodaan agama oleh padepokan itu hingga akhirnya polisi bertindak terkait kasus lain yakni pembunuhan.

“Kini, MUI Jatim diwakili Sekjen GUIB M Yunus dan perwakilan ormas melaporkan kasus penodaan agama ke Polda Jatim,” katanya. (rp/gbi)