Ini yang Membuat Mobil Irit BBM

No comment 580 views
Beberapa pabrikan mobil berupaya mengembangkan teknologi untuk efisiensi BBM.

Beberapa pabrikan mobil berupaya mengembangkan teknologi untuk efisiensi BBM.

GLOBALINDO.CO – Harga bahan bakar minyak (BBM) yang fluktuatif, membuat mobil irit BBM menjadi incaran konsumen. Alasannya, tentu sajauntuk meringankan kantung pengeluaran dan sebaliknya.

Menjawab kebutuhan tersebut, sejumlah pabrikan berupaya menciptakan mobil yang tak rakus bensin. Beragam solusi hadir, misalnya ada mobil yang pakai sistem hibrida.

Mobil-mobil hibrida pada prinsipnya mengombinasikan dua penggerak, satu combustion engine dan motor listrik. Kombinasi ini sukses meningkatkan efisiensi.

Para pabrikan sejak dahulu selalu memutar otak dalam menghadirkan model pencipta daya yang reliable dan dapat menyentuh berbagai kalangan masyarakat. Hal ini tentu bukan perkara mudah, teknologi canggih, berbanding lurus dengan biaya produksi. Harga mobil yang lebih canggih teknologi mesinnya, akhirnya lebih mahal.

Tapi kondisi bahan bakar fosil (misal: bensin, solar) yang digunakan untuk mesin konvensional pasti akan habis. Apalagi masyarakat yang hidup di satu generasi sudah pasti tak bisa membuat bahan bakar jenis ini untuk dinikmati di masanya.

Untuk menyiasati itu, pabrikan pun terus berusaha mengembangkan mesin-mesin pencipta tenaga yang andal dalam mengolah bahan bakar. Baik itu menggunakan teknologi terbaru, maupun meracik ulang kembali ke fundamental mesin.

Berikut ini beberapa teknologi mesin yang digunakan oleh pabrikan sebagai solusi mereka untuk menjaga efisiensi dengan tanpa mengurangi performa.

Hybrid

Mesin hibrida (gambar atas) memang solusi yang cukup marak digunakan oleh pabrikan-pabrikan. Dengan mengombinasikan mesin bakar konvensional dengan motor elektrik, kedua mesin ini bisa saling bekerja secara simultan atau berganti-gantian.

Ambil contoh Toyota Camry Hybrid. Pada kecepatan rendah, mesin ini akan menggunakan energi listrik yang ditampung di baterai untuk menggerakkan motor elektrik yang memutar roda. Bahan bakar pun tak digunakan selama masa kerja ini. Artinya, sudah ada proses reduksi konsumsi bahan bakar di sini.

Ketika mobil melaju makin kencang dan membutuhkan tenaga, maka mesin konvensional mengambil alih untuk mengalirkan tenaga. Motor listrik yang berputar pun beralih fungsi menjadi generator pengisi daya baterai, sekaligus membantu menggerakkan mobil. Dengan kombinasi ini, ada saat-saat di mana mesin bakar tak menghirup bahan bakar, sehingga konsumsi bahan bakar mobil secara total menurun.

Teknologi ini bukan tanpa kelemahan. Meski tujuannya mulia, untuk mereduksi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomisnya, harga mobilnya masih sangat mahal. Apalagi untuk Indonesia, yang belum punya kebijakan insentif pajak bagi mobil hibrida.

Turbo

Turbocharger memang bukan teknologi baru. Perangkat berbentuk keong berisi turbin ini berfungsi mengonversi udara panas menjadi energi kinetik yang memutar turbin. Turbin ini akan memampatkan udara menuju ruang bakar. Alhasil proses pembakaran lebih sempurna dan tenaga meningkat.

Teknologi ini awalnya dikembangkan sebagai peningkat performa. Namun seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Sang keong beralih fungsi menjadi penjaga efisiensi. Pabrikan menjadi punya satu solusi untuk menghadirkan kendaraan hemat bahan bakar, namun tetap andal untuk diajak melesat.

Caranya adalah dengan mengaplikasikan mesin berkapasitas kecil, dan mengimbuhkan turbochargerd. Alhasil, mesin yang digunakan pada mobil pun bisa dipangkas kapasitas silindernya. Lihat saja Ford Fiesta yang tadinya menggunakan mesin 1.6 L. Berkat teknologi turbocharger, Fiesta mendapatkan mesin 1.0 EcoBoost dengan turbocharger. Tenaganya lebih besar dari mesin 1,6 liter, namun dengan efisiensi yang lebih baik.

Diesel

Mesin DieselSejak era Rudolf Diesel, mesin ini dikembangkan sebagai pencipta tenaga yang paling baik dari kasta mesin pembakaran internal. Tenaga dan torsi yang bisa dipanen dari mesin picu kompresi ini bisa lebih besar lantaran kompresi yang digunakan untuk menciptakan detonasi juga lebih besar. Sayangnya, mesin ini sempat dicap memiliki tingkat emisi yang buruk.

Tak hanya itu, vibrasi berlebih juga kerap dikeluhkan para pengguna mesin diesel lawas. Seiring berkembangnya teknologi bahan bakar dan perangkat pengolahnya, mesin diesel pun mampu menghasilkan tenaga yang besar dengan tanpa merusak lingkungan. Caranya adalah dengan menggunakan bahan bakar diesel rendah emisi, direct injection, commonrail, dan turbocharged.

Alhasil mitos-mitos buruk mesin diesel pun satu persatu diruntuhkan. Malahan efisiensinya terbukti lebih baik dari mesin bensin, meski emisinya tetap menjadi pertanyaan. Sayang, perawatan untuk mobil diesel pun kini harus lebih terjaga. Bahan bakar diesel yang berkualitas buruk adalah musuhnya.

Mercedes-Benz dan BMW, adalah beberapa pabrikan mobil mewah yang sudah menerapkan mesin jenis ini ke banyak modelnya. Bukan hanya SUV, namun hingga sedan pun disediakan dalam format mesin diesel untuk memberikan pilihan bagi masyarakat.

SKYACTIV

Jika pabrikan lain menggunakan perangkat imbuhan untuk membuat mesinnya lebih hemat bahan bakar, strategi Mazda tidak demikian. Para insinyur Mazda merunut kembali langkah-langkah penghasilan energi lewat detonasi di ruang bakar. Akhirnya ditemukan fakta bahwa mesin konvensional hanya mampu memanen 30% energi dari setiap kompresi campuran bahan bakar dan udara.

Dengan memaksimalkan batas pada ruang bakar, Mazda pun berhasil menciptakan kompresi besar yang dapat menarik energi dari setiap tetes bahan bakar yang disemburkan. Analoginya, kompresi mesin bensin konvensional di level 10,5:1.

Sementara mesin Skyactiv bensin, mempunyai rasio kompresi 14:1. Hal ini dimungkinkan hanya dengan merekonstruksi ulang mesin dan menghadirkan racikan yang lebih efisien, seperti pengaturan derajat klep, konstruksi piston, hingga pengaturan konfigurasi pipa gas buang dioptimalkan. Tentu saja itu semua dipadu dengan teknologi Skyactiv lain yang diterapkan di bodi hingga transmisi.

Alhasil, mesin SKYACTIV bensin Mazda dapat menyajikan efisiensi tanpa perlu menambah komponen yang lebih mahal seperti pada mobil hibrida maupun turbo. Tak hanya itu, mesin terbaru Mazda juga meningkatkan performa dan torsi hingga 15% dibanding mesin sebelumnya. Dengan metode ini, Mazda pun tak perlu melabeli mobilnya dengan harga jauh lebih mahal dari mesin bensin konvensional. Di Indonesia, saat ini hampir semua model Mazda yang dijual sudah mengadopsi sistem ini. (gbi)

Tags: