Inisiator Sanksi PBB, Korut Ancam Lenyapkan AS dan Jepang

oleh
Pemimpin dua negara yang diancam akan dimusnahkan Korea Utara, Shinzō Abe (PM Jepang) dan Donald Trump (Presiden AS) saling mendukung untuk mempelopori sanksi PBB terhadap Korut.
Pemimpin dua negara yang diancam akan dimusnahkan Korea Utara, Shinzō Abe (PM Jepang) dan Donald Trump (Presiden AS) saling mendukung untuk mempelopori sanksi PBB terhadap Korut.

 

GLOBALINDO.CO, PYONGYANG – Sanksi Bangsa Bangsa semakin membuat Korea Utara bersikap keras. Negara tetangga Korea Selatan itu mengancam akan membumi hanguskan Amerika Serikat dan Jepang yang mempelopori sanksi itu

Organisasi bernama North’s Korea Asia-Pacific Peace Committee juga meminta negaranya untuk menenggelamkan Jepang, yang merupakan sekutu Amerika Serikat, ke dasar laut.

“Tentara dan rakyat Korea Utara dengan suara bulat menuntut orang-orang Yankee (Amerika), pelaku utama dalam memprovokasi ‘sanksi’, dipukuli sampai mati layaknya anjing gila,” demikian pernyataan organisasi itu seperti dilansir kantor berita resmis Korea Utara KCNA.

North’s Korea Asia-Pacific Peace Committee, menyatakan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memusnahkan imperialis Amerika. “Mari kita mengubah daratan AS menjadi abu dan kegelapan,” seperti yang dilansir Daily Mail, Kamis (14/9).

Korea Utara memiliki sejarah panjang untuk mengeluarkan berbagai jenis ancaman dramatis terhadap AS dan sekutu-sekutunya. Namun belum ada satupun ancaman itu yang menjadi kenyataan.

Menurut Kementrian Unifikasi Korea Selatan, KAPPC berperan sebagai jendela untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara seperti Amerika dan Jepang sambil berusaha memperbaiki citra buruk negara itu. KAPPC juga menuduh Tokyo mengikuti alunan irama AS.

”Aka nada pukulan keras untuk Jepang.”

Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menetapkan sanksi ke delapan pada Senin, 11 September 2017. Dewan melarang semua negara melakukan perdagangan tekstil dan membatasi penjualan minyak kepada Korea Utara. Ini dilakukan setelah setelah Pyongyang menguji apa, yang sebutnya sebagai bom hidrogen.

Rezim Kim Jong-un Korea Utara mengklaim pemerintah membutuhkan senjata nuklir untuk melindungi diri dari pasukan musuh. Para ahli percaya program senjata Korea Utara telah membuat kemajuan pesat di bawah pemimpin Kim Jong Un, dengan sanksi sebelumnya tidak berdampak banyak untuk mencegahnya. (dim/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *