Ironi Pencari Suaka yang Terlunta-lunta di Ibu Kota Jakarta

oleh
Pencari suaka asal Sudan dan Afghanistan yang terlantar di Jakarta.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Jakarta sebagai wajah utama Indonesia lantaran posisinya sebagai Ibu Kota terus menunjukkan perangai yang keras dan tidak bersahabat. Sebagain kalangan bahkan mungkin menggunakan sebutan “tidak manusiawi”.

Tengoklah apa yang terjadi dengan puluhan pengungsi pencari suaka asal Afghanistan dan Sudan yang sudah lebih dari sebulan menggelandang dan terlunta-lunta di trotoar depan Rumah Detensi Imigrasi, Kalideres, Jakarta Barat. Menyitir Bang Rhoma: langit sebagai atap rumah dan bumi sebagai lantainya.

“Kami kesulitan di sini, di trotoar kami tidak bisa tidur, keras dan berisik dekat jalanan. Apalagi ini musim hujan. Makanya kami sesekali pindah ke masjid,” kata salah satu pengungsi asal Afghanistan bernama Ahmad Babakhir.

(Baca Juga: Indonesia Bantu Afganistan Rp 16,17 Miliar dari APBN yang Defisit)

Babakhir mengaku kerap kesulitan mendapat tempat berteduh karena pihak imigrasi tidak membolehkan mereka masuk ke dalam gedung.

“Kami enggak bisa terus-terusan di sini (trotoar), ada anak-anak dan perempuan di sini. Berbahaya bagi mereka, makanya kami minta imigrasi sediakan ruang buat kami,” pintanya.

Babakhir dan kerabatnya mengaku melarikan diri dari kancah peperangan yang berkecamuk di Afghanistan dan Sudan.

“Saya datang karena di sana terus perang, tidak aman. Makanya saya ke sini,” akunya.

Para pengungsi yang terdiri dari lelaki, perempuan, dan anak-anak itu tidur beralaskan kardus di trotoar. Asap dan suara kendaraan yang melintas tak bisa mereka hindari.

Beberapa pengungsi merupakan anak-anak. Bahkan ada anak berusia dua tahun asal Sudan bernama Sami mengalami patah tulang di bagian kakinya dan belum mendapatkan perawatan.

Kondisi mereka yang memprihatinkan itu viral di media sosial. Atas dasar itu, bantuan kepada mereka kemudian datang silih berganti.

Mereka mendapatkan banyak bantuan dari warga sekitar dan warga lainnya yang kebetulan melintas di Jalan Peta Selatan. Bantuan tersebut antara lain selimut, pakaian, nasi bungkus, tempat tidur, dan kerudung.

Pencari suaka asal Sudan dan Afghanistan yang terlantar di Jakarta.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno berjanji membantu.

“Saya langsung kirim Dinas Sosial, itu harus diberikan bantuan karena trotoar itu bukan tempat tinggal, trotoar itu tempat pejalan kaki,” kata Sandi di Kantor Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Jalan Taman Jatibaru No 1, Jakarta Pusat, Jumat (19/1/2018).

“Kita akan koordinasi, kita bantu, ini adalah human being, manusia, harus dibantu. Nanti ditaruh di panti sosial. Saya nanti perintahkan dinas sosial,” sambungnya.

Namun, Dinas Sosial DKI Jakarta menyatakan, urusan penanganan para pencari suaka itu bukan ada di mereka.

Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Masrokhan mengatakan, kewenangan itu ada di tangan pihak Imigrasi atau UNHCR.

Meski begitu, Sandiaga Uno mengaku akan tetap menerjunkan Dinas Sosial untuk membantu penanganan para pencari suaka tersebut. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk mencarikan solusi sehingga bisa mengembalikan fungsi utama trotoar sebagai tempat pejalan kaki.

“Iya tapi kan atas kemanusiaan kita akan bantu. Kita akan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri karena itu fungsinya pejalan kaki jadi mereka harus dikasih tempat yang layak,” tuturnya.(kcm/dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *