Jadi Kurir Sabu, Warga Margomulyo Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara

oleh
Terdakwa Abdul Rohman saat menjalani persidangan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang narkotika jenis sabu seberat 5,9 gram dengan terdakwa Abdul Rohman (20) kembali digelar di PN Kota Surabaya, Senin (21/5/2018). Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sumantri SH menghadirkan saksi penangkapan dari Satreskoba Polrestabes Surabaya. Pada keterangan saksi, ia menjelaskan penangkapan terdakwa dari hasil laporan masyarakat.

“Perkara tersebut bermula adanya informasi dari masyarakat terkait penyalagunaan narkotika jenis sabu yang dilakukan oleh terdakwa” ujar saksi penangkapan di hadapan majlis hakim yang dipimpin oleh Ketua Majlis Dedi Fardiman SH MH.

Setelah mendapat informasi tersebut lanjut saksi, kemudian dengan gerak cepat menidak-lanjutinya dengan melakukan penyelidikan di area Jln. Margomulyo Surabaya. Dari lokasi itu terdakwa berhasil ditangkap.

Pada saat penangkapan tersebut berhasil mengamankan barang bukti 2 poket sabu yang dibungkus dalam bungkus permen serta satu buah handphone.

“Saat digeledah petugas menemukan barang bukti berupa (1) satu poket shabu seberat 3,32 gram, (1) satu poket shabu seberat 2,47 gram, (1) satu buah Handphone merk advan warna hitam, serta (1) satu bungkus permen fishermen’s friend” tambahnya.

Setelah mengamankan barang bukti tersebut, petugas menginterogasi terdakwa jika sabu seberat 5,9 gram didapat dari Harris yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Pada dakwaan, warga Margomulyo Surabaya itu mendapat narkotika jenis sabu melalui Harris untuk diantarkan kepada Uus dengan imbalan Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah). Namun naas, sebelum sempat menyerahkan barang titipan tersebut, terdakwa keburu ditangkap petugas Kepolisian Polrestabes Surabaya.

Atas perbuatannya terdakwa sesuai pasal 112 ayat (2) Undang Undang RI No.35 tahun 2009 tentang narkotika dengan hukuman 6 tahun penjara.

Sementara terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya Sandhy Krisna SH dari Lembaga Bantuan hukum (LBH Lacak) belum mengambil sikap karena perkara tersebut baru dalam kountex keterangan saksi. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *