Jadi Pengajar di Sekolah Kebangsaan, Ini Pesan Risma Kepada Pada Siswa

Antusiasme Walikota Surabaya, Tri Rismaharini saat mengajar Sekolah Kebangsaan di GNI.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Walikota Surabaya, Tri Rismaharini kembali menjadi pengajar sekolah kebangsaan. Sekolah Kebangsaan yang dikemas layaknya aktifitas belajar mengajar kali kedua ini berlangsung di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Kamis, (9/11/2017).

Agenda tahunan ini dihadiri ratusan pelajar di Kota Surabaya. Dari tingkatan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka duduk lesehan di tengah pendopo dengan aroma perjuangan sejak dulu kala.

Tri Rismaharini dan beberapa veteran pejuang, tampil sebagai seorang “guru” yang berkisah tentang perjuangan para pahlawan dan juga semangat kepahlawanan.

Anggota Legiun Veteran sekaligus koordinator Sekolah Kebangsaan Surabaya, Supardi, menjadi “guru pertama” pada Sekolah Kebangsaan kali ini. Veteran pejuang yang kini berusia 85 tahun ini berkisah tentang betapa dashyat perjuangan para pahlawan, khususnya arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan.

Supardi menjelaskan, tujuan sekolah kebangsaan ini agar anak-anak tidak melupakan sejarah. Terlebih di area ini (Gedung GNI), ada momentum sejarah luar biasa yakni lahirnya dr. Soetomo yang mendirikan Budi Oetomo kemudian melahirkan sumpah pemuda.

“Sebagai cucu dan cicit para pahlawan, kalian harus memiliki semangat besar untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dengan cara belajar, belajar dan belajar,” tegas Supardi.

Setelah eyang Supardi, giliran Tri Rismaharini yang menyampaikan pentingnya diadakan Sekolah Kebangsaan. Menurut Risma, Sekolah Kebangsaan ini penting diselenggarakan agar anak-anak tahu bahwa kemerdekaan yang diraih, bukan karena diberi. Tetapi merupakan hasil perjuangan para pahlawan. Semua warga Surabaya kala itu ikut bertempur dan ribuan orang gugur.

“Kalian bisa bersekolah dan beraktivitas seperti sekarang, karena hasil perjuangan. Karena itu, sudah seharusnya kalian meneruskan perjuangan para pahlawan. Tentunya tidak dengan mengangkat senjata, melainkan dengan belajar dan berani keluar dari zona nyaman,” ujar Risma.

Mantan Kepala Bappeko ini menuturkan, dipilihnya lokasi Gedung GNI karena di kawasan tersebut, pada 1945 silam, dr.Soetomo yang menimba ilmu ke Belanda, kembali ke Indonesia karena rasa cinta kepada bangsa Indonesia. Melalui ilmu yang sudah didapat, Soetomo bersama dengan kawan-kawannya berhasil mencetuskan Sumpah Pemuda.

“Para pahlawan dulu berani dan mempunyai nyali demi mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, kalian jangan pernah merasa takut atau rendah diri. Kalian harus berani berjuang untuk memperebutkan keberhasilan. Gunakan apa yang kalian miliki untuk kemajuan kalian, orang tua, sesama dan bangsa Indonesia” sambungnya.

Selama sekitar satu jam, wali kota yang berhasil menerima penghargaan Global Green City Award PBB di New York, menyampaikan banyak pesan penting kepada para pelajar. Tentang semangat kepahlawanan yang harus diwarisi, tentang pentingnya keberanian untuk bersaing dengan pelajar di seluruh dunia, tentang pentingnya menjadi pemenang di kota sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Dalam kesempatan itu, Risma juga menghimbau agar pelajar tidak terus bermain gadget melainkan belajar agar negara ini tidak dijajah oleh bangsa lain. Menurutnya, kemajuan gadget merupakan bentuk penjajahan di era modern.

“Penjajahan sesungguhnya sudah terjadi. Jangan terlena dengan gadget, itu semua by design untuk menghancurkan bangsa ini,” pesan walikota.

Untuk diketahui, Sekolah Kebangsaan merupakan agenda tahunan yang digagas Pemkot Surabaya sejak beberapa tahun lalu untuk menyambut Hari Pahlawan. Lokasi yang dipilih sebagai tempat Sekolah Kebangsaan tersebut tidak sembarangan. Tetapi merupakan tempat-tempat yang sarat akan nilai sejarah karena dulunya menjadi “saksi perjuangan” para pahlawan. (bmb/gbi)