Jaksa Tegaskan Novanto Berdusta Sakit, Tim Dokter RSCM Siap Tanggung Jawab

oleh
Tedakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto menjalani sidang perdana, Rabu (13/12) dengan penampilan yang acak-acakan dan alasan sakit. Walau begitu, ia tetap didakwa melakukan korupsi yang merugikan negara hingga RP 2,3 triliun.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kegigihan Setya Novanto memainkan drama dalam menghadapi kasus korupsi e-KTP hingga persidangan perdana sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor, Rabu (13/12) tak membuat jaksa penuntut pada Komisi Pemberantasan Korupsi dan tim dokter RSCM Jakarta terkecoh. Tim Dokter KPK dan RSCM menyatakan Novanto telah berdusta beralsan sakit diare selama lima hari.

Tiga dokter RSCM di persidangan bahkan siap bertanggungjawab atas hasil pemeriksaannya. Awalnya, ketiga dokter itu memeriksa Novanto di klinik pengadilan atas perintah majelis hakim karena di awal sidang mantan Ketua DPR itu mengaku sakit dan tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan.

Ketiga dokter pun menjawab singkat secara bergantian bahwa mereka siap bertanggungjawab dengan hasil pemeriksaannya.

Walau dinyatakan sehat oleh tim dokter RSCM, Novanto tak mau menyerah. Kepada majelis hakim, Novanto bersikukuh sedang sakit diare.

Bahkan Novanto kepada hakim mengaku tidak pernah diberi obat oleh dokter KPK selama lima hari menderita diare. Ia mengaku 20 kali bolak-balik ke kamar mandi karena alasan diare.

Untuk lebih meyakinkan, Setya Novanto hadir di pengadilan dengan penampilan yang cukup memprihatinkan derta didampingi istrinya yang tak henti menangis. Ia juga terlihat lesu dan lemah hingga tak satu pun pertanyaan majelis hakim yang dia jawab. (Baca: Setya Novanto Acak-acakan Hadiri Sidang Korupsi e-KTP, Istri Menangis).

Akhirnya, Hakim Yanto pun bertanya kepada ketiga dokter yang memeriksa Novanto apakah mereka bersedia bertanggungjawab dengan hasil pemeriksaannya.

“Artinya kalau pemeriksaan saudara enggak benar bisa dipermasalahkan penasihat hukum,” kata Ketua Majelis Hakim Yanto kepada ketiga dokter tersebut.

Untuk mematahkan alasan Novanto, Jaksa KPK, Irene Putri membeber hasil pantauan penjaga rutan pada Jumat kemarin. Disebutkan bahwa Novanto hanya dua kali ke kamar mandi, kira-kira pukul 11.00 malam dan 02.30 pagi (Sabtu).

“Terdakwa berbohong. Dia tidak benar-benar diare,” kata Jaksa Irene.

Istri Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor (kanan) terus menitikkan airmata saat mendampingi suaminya menjalani sidnag perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12).

Dokter dari RSCM lain yang tidak termasuk tim medis pemeriksa Novanto, Dyah Novita Anggraini, menjelaskan, seseorang yang mengalami diare lebih dari lima hari dan lebih dari 20 kali bolak-balik ke kamar mandi, semestinya bakal lemas dan tidak sanggup beraktivitas.

“Diare lebih dari lima hari berarti dia kehilangan banyak cairan di dalam tubuh. Kehilangan cairan membuat pasien dehidrasi. Dehidrasi ini pun punya dampak lagi,” kata Dyah saat dihubungi  hari ini.

Dyah yakin, pasien diare tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan apa-apa. Sebab, cairan tubuh yang hilang harus segera dikembalikan.

“Lebih dari tiga kali saja sudah ‘bahaya’, apalagi kalau sampai 20 kali, seharusnya sudah langsung diobati (dan pasien bisa tak berdaya),” kata Dyah.

Jaksa penuntut umum pada KPK Burhanudin mendakwa Ketua DPR nonaktif Setya Novanto menerima hadiah berupa uang dan jam tangan mewah terkait proyek pengadaan e-KTP 2011-2012.

Hadiah itu diberikan sebagai kompensasi atas usaha Setnov melobi sejumlah pihak dalam memuluskan anggaran proyek e-KTP.

Dalam dakwaan, Burhanudin menyebut Setnov mengkoordinasikan dan mengkondisikan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) dan Komisi II DPR. Namun, Ganjar Pranowo yang saat itu masih duduk di Komisi II banyak mengkritisi usulan atau konsep proyek e-KTP yang diajukan Kementerian Dalam Negeri.

“Selama proses pembahasan penganggaran proyek e-KTP, Ganjar Pranowo selaku Wakil Ketua Komisi II DPR banyak mengkritisi mengenai usulan atau konsep yang diajukan pemerintah,” ujar Jaksa Burhanudin di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/12).

Kritikan Ganjar yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah itu mendapat perhatian tersendiri dari Setnov. Maka pada sekitar akhir 2010 hingga awal 2011 di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Setnov melobi Ganjar agar jangan galak-galak untuk urusan e-KTP.

“Gimana mas Ganjar, soal e-KTP itu sudah beres, jangan galak-galak ya,” ucap Jaksa Burhanudin menirukan perkataan Ganjar seperti dalam dakwaan. (cni/nad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *