Jatim Digelontor Uang Baru Rp 23,5 Triliun Layani Penukaran Saat Lebaran

uang baruGLOBALINDO.CO, SURABAYA – Jawa Timur mendapat gelontoran uang baru senilai Rp 23,5 triliun dari Bank Indonesia (BI). Triliunan uang baru ini disiapkan untuk melayani penukaran jelang Lebaran.

Uang baru ini digelontorkan ke empat kantor cabang BI di Jatim masing-masing Surabaya, Malang, Kediri dan Jember. Dari keempatnya, BI Surabaya yang jatahnya paling tinggi.

Permintaan uang baru naik dari tahun lalu yang hanya Rp 19,5 triliun. Jumlah ini mulai diluncurkan sejak dua minggu terakhir. Lembaran uang baru yang disiapkan terdiri dari berbagai pecahan, mulai Rp 5.000 hingga Rp 50.000.

“Kenaikannya sekitar 40%. Tiap tahun, permintaan uang baru selalu naik,” kata Hestu Wibowo, Kadiv Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah BI Jatim, Rabu (1/6/2016).

Mulai tahun ini, BI tak memberikan penukaran uang baru secara langsung. Namun diserahkan ke bank yang bermitra dengan BI. Hal ini mengantisipasi maraknya penjualan uang baru di pinggir jalan. Sebab sangat berisiko bagi konsumen. Salah satunya, kemungkinan diselipi uang palsu dan jumlahnya tak utuh.

“Semua penukaran uang baru diserahkan ke bank, jadi tak ada lagi pedagang uang pecahan di pinggir jalan,” jelasnya.

Meski tak melayani penukaran uang tunai, BI tetap menggelar kas keliling. Seperti di pasar, terminal, rest area dan pusat keramaian. Harapannya, warga tetap bisa menikmati pecahan baru, sekaligus sosialisasi lembaran uang asli.

“Jelang Lebaran, biasanya uang palsu juga marak. Jadi, kita antisipasi dengan sosialisasi uang asli,” jelasnya.

Menurutnya, kasus uang palsu di Indonesia masih tinggi. Tahun ini, indeknya mencapai angka 9. Artinya, dari 1 juta lembar uang tunai, ditemukan rata-rata 9 lembar uang palsu. Angka ini sedikit turun dari tahun lalu yang menembus 12. Diduga, tahun lalu angka pemalsuan uang cukup tinggi lantaran bersamaan momen pilkada.

“Kalau tahun ini momennya Lebaran, jadi trennya masih tinggi,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya meminta masyarakat tak tergiur dengan pedagang uang pecahan di pinggir jalan. Sebab, beresiko bercampur uang palsu. Kasus uang palsu di Indonesia kata dia jauh lebih tinggi dari negara lain.

“Ini tugas kita bersama, warga juga harus jeli memilih uang asli,” pungkasnya.(dtc/ziz)