Jessica Kecewa, Vonis 20 Tahun Tanpa Bukti Otopsi Jasad Mirna

oleh
Terpudana kasus pembunuhan, Jessica Kumala Wongo (foto kanan) saat memperagakan adegan rekonstruksi kejadian detik-detik jelang kematin Mirna Salihin setelah meneguk kopi bersianida di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta. Janggalnya, jasad Mirna yang meninggal diduga karena diracuni sianida tidak pernah diotopsi sebagai bukti dlam kasus pembunuhannya.
Terpudana kasus pembunuhan, Jessica Kumala Wongo (foto kanan) saat memperagakan adegan rekonstruksi kejadian detik-detik jelang kematin Mirna Salihin setelah meneguk kopi bersianida di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta. Janggalnya, jasad Mirna yang meninggal diduga karena diracuni sianida tidak pernah diotopsi sebagai bukti dlam kasus pembunuhannya.
Terpudana kasus pembunuhan, Jessica Kumala Wongo (foto kanan) saat memperagakan adegan rekonstruksi kejadian detik-detik jelang kematin Mirna Salihin setelah meneguk kopi bersianida di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta. Janggalnya, jasad Mirna yang meninggal diduga karena diracuni sianida tidak pernah diotopsi sebagai bukti dlam kasus pembunuhannya.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Terpidana Jessica Kumala Wongso menyebut vonis 20 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta pusat kepadanya jauh dari keadilan. Pihaknya menganggap vonis tersebut tidak berdasar bukti dan fakta persidangan.

“Saya tidak terima atas putusan ini, karena keputusan ini sangat tidak adil dan berpihak. Selebihnya, saya serahkan pada kuasa hukum,” ujar Jessica usai persidangan putusan, di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (27/10).

Kekecewan juga diungkapkan penasihat hukum Jessica, Otto Hasibuan. Ia mengaku prihatin atas putusan majelis hakim yang dianggap telah mengabaikan pertimbangan dan fakta hukum yang telah.

“Saya sangat kecewa sekali hakim menjatuhkan vonis sangat berpihak. Karena putusan sangat tidak adil dan berpihak serta sangat-sangat tidak berdasarkan hukum, maka secara tegas kami menyatakan banding,” tegasnya.

Majelis hakim, memberikan kesempatan kepada tim penasihat hukum untuk mempersiapkan banding selama sepekan setelah putusan. (Baca: Jessica Divonis 20 Tahun Bui, Motif Bunuh Mirna Muncul Sejak di Australia).

“Banding dapat diajukan dalam waktu tujuh hari setelah pembacaan putusan,” kata Ketua Majelis Hakim Kisworo.

Kekecewaan Jessica dan pengacaranya cukup masuk akal mengingat ada sejumlah kejanggalan selama proses penyelidikan hingga persidangan kasus ini. Selain bukti yang disdorkan jaksa tidak cukup kuat, jasad Mirna Solihin yang disebut-sebut telah diracun Jessica menggunakan sianida dalam secangkir kopi ternyata tidak pernah diautopsi pihak kepolisian.

Saat meninggal dalam perjalanan dari mall Grand Indonesia menuju Rumah Sakit Abdi Waluyo, dokter sempat merekomendasikan ke pihak keluarga untuk mengautopsi jasad Mirna. Tetapi saran itu ditolak oleh ayah Mirna, Darmawan Salihin.

Kala itu, keluarga Mirna hanya meminta dokter mengambil cairan lambung dalam tubuh Mirna. Permintaan ini muncul setelah ayah korban merasa anaknya telah diracun.

“Saya sudah sampaikan ke keluarga korban, kalau memang merasa janggal bisa kami rujuk ke RS lain. RS kami tidak memadai untuk autopsi,” ujar dokter RS Abdi Waluyo yang pertama kali menangani jasad Mirna, Ardianto saat bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Agustus lalu.

Ardianto awalnya tak mengetahui penyebab pasti kematian Mirna. Saat itu dia hanya menyebutkan, berbagai kemungkinan yang membuat Mirna mendadak meninggal seperti serangan jantung, pembuluh darah kepala pecah, dan alasan lain yang biasanya terjadi.

“Saya tawarkan CT Scan karena saya pernah tangani pasien dengan kondisi pembuluh darah pecah,” katanya. Tetapi  berdasar hasil CT Scan, ternyata kematian Mirna terlihat normal.

Jessica Kumala Wongdo (kiri) mendekam di penjara selama 20 tahun sesuai vonis majelis hakim PN Jakarta Pusat, Kamis (27/10). Mirna Salihin (kanan) yang meninggal usai meneguk kopi yang diduga telah dicampur sianida di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta.
Jessica Kumala Wongdo (kiri) mendekam di penjara selama 20 tahun sesuai vonis majelis hakim PN Jakarta Pusat, Kamis (27/10). Mirna Salihin (kanan) yang meninggal usai meneguk kopi yang diduga telah dicampur sianida di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta.

Drama kasus ini pun bermula saat Ayah Mirna, Darmawan mendadak berubah pikiran saat Polda Metro Jaya diam-diam melakukan penyelidikan atas kematian anaknya. Ditambah hasil penyelidikan yang disampaikan Komisaris Besar Krishna Murti yang saat itu menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya kepada Darmawan bahwa Mirna meninggal secara tak wajar.

Darmawan pun mengizinkan Kombes Krishna untuk melakukan autopsi terhadap jasad Mirna. Kala itu, ia yakin ada tindak kriminal dalam kematian Mirna.

“Kalau lo enggak autopsi, enggak ada tindak kriminal,” ucap Darmawan, saat dihadirkan sebagai saksi dari JPU pada persidangan, Juli lalu.

Tim Kedokteran Polda Metro Jaya dan Tim Forensik Mabes Polri melakukan autopsi terhadap jasad Mirna di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, tiga hari setelah meninggal. Namun proses autopsi tidak dilakukan secara menyeluruh.

Tim forensik Rumah Sakit Polri Soekanto hanya mengambil sampel empedu, hati, dan lambung untuk mengetahui, apakah tubuh Mirna mengandung zat korosif jenis sianida atau tidak. Ahli forensik RS Polri Soekanto, Slamet Purnomo, mengaku tidak tahu alasan penyidik kepolisian hanya meminta pihaknya mengambil sampel.

Pernyataan itu dia sampaikan saat menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 3 Agustus lalu. Slamet yang menjadi saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) heran lantaran permintaan tersebut baru disampaikan tiga hari setelah Mirna tewas.

Bahkan saat sampel diambil, tubuh Mirna telah dalam kondisi diawetkan. Dari pemeriksaan itu, terlihat bercak berwarna hitam pada lambung Mirna.

“Harusnya lambung berwarna putih susu, tapi ini kehitaman terutama di bagian bawah,” tutur Slamet saat menjadi saksi di persidangan.

Warna hitam juga muncul pada bibir Mirna. Selain sampel lambung, tim dokter menyerahkan sampel hati, urine, dan empedu Mirna pada penyidik.

Hasilnya, ada zat korosif yang menyebabkan Mirna meninggal. Zat korosif dalam lambung Mirna ternyata adalah racun sianida dengan dosis 0,2 miligram per liter.

Sementara dalam gelas kopi yang diduga menewaskan Mirna ditemukan 297,6 miligram per liter racun sianida. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat lebih besar dari dosis maksimal yang bisa membunuh manusia yakni 171,42 miligram per liter.

Dosis yang ditemukan dalam lambung berkurang karena Mirna diperiksa tiga hari setelah kejadian. Menurut Slamet, hal ini membuat sianida terserap dalam tubuh.

Berdasarkan informasi seorang perwira kepolisian yang pernah menyelidiki kasus kematian Mirna, permintaan untuk hanya mengambil sampel dilakukan lantaran polisi telah memiliki keyakinan perihal penyebab kematian Mirna ketika itu. Keyakinan itu berawal dari hasil rekaman kamera circuit closed television (CCTV) yang memperlihatkan Mirna langsung mengibas mulut usai menyesap es kopi Vietnam.

rekonstruksi-mirna-salihin
Wayan Mirna Salihin (kiri). Foto kanan: Polisi mengawasi rekonstruksi adegan pembunuhan Mirna di Kafe Olivier, Jakarta.

Pengambilan sampel dilakukan hanya untuk mencocokan hasil pemeriksaan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri yang menemukan zat korosif jenis sianida dalam es kopi Vietnam yang disesap Mirna.

Aturan terkait autopsi tertuang dalam Pasal 133 dan Pasal 134 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Pasal 133 berbunyi, untuk kepentingan peradilan menangani korban, penyidik berwenang meminta keterangan ahli. Permintaan tersebut bisa secara tertulis dan menyebutkan pemeriksaan luka, mayat, atau bedah mayat.

Sementara Pasal 134 berbunyi, bila untuk pembuktian, bedah mayat tidak mungkin dihindari, maka penyidik wajib informasikan kepada keluarga dan wajib menerangkan sejelas-jelasnya maksud dan tujuan otopsi. Bila dua kali 24 jam tidak ada tanggapan dari keluarga, maka penyidik segera laksanakan otopsi.

Menurut anggota kepolisian yang tak ingin disebutkan namanya, proses autopsi tidak perlu dilaksanakan bila polisi telah meyakini penyebab kematian seseorang. “Soal autopsi, itu tidak dilakukan kalau polisi bisa mendapatkan logika kematiannya,” katanya. (cni/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *