Jessica Nikmati Ruang Tahan Mewah di Mapolda Metro, Jaksa Tolak Seluruh Pledoi

Jaksa penuntut umum menolak seluruh isi nota pembelaan (pledoi) yang dibacakan Jessica Kumala Wongso dan kuasa hukumnya setebal 4.000 halaman dalam sidang sebelumnya.

Jaksa penuntut umum menolak seluruh isi nota pembelaan (pledoi) yang dibacakan Jessica Kumala Wongso dan kuasa hukumnya setebal 4.000 halaman dalam sidang sebelumnya.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Jaksa penuntut umum mengungkap perlakuan istimewa polisi kepada terdakwa Jessica Kumala Wongso selama menjalani masa tahanan di Mapodla metro Jaya. Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin itu menempati ruang tahanan paling mewah dengan fasilitas sofa dan ruangan ber-AC.

Hal itu disampaikan pada sidang lanjutan dengan agenda replik atau tanggapan jaksa penuntut umum terhadap pembelaan terdakwa, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (17/10). Jaksa pun mempertontonkan foto-foto Jessica menikmati fasilitas ruang tahanan mewah selama mendekam di Mapolda Metro Jaya.

“Tentang kesaksian terdakwa soal ruang tahanan yang kecil, bau, dan banyak kecoa, itu merupakan pilihan terdakwa sendiri supaya tidak digabung dengan tahanan lain. Bahkan, ruang (tahanan di Mapolda Metro Jaya) yang ditempati terdakwa termasuk yang paling mewah. Kami akan memperlihatkan buktinya melalui sejumlah dokumentasi berikut ini,” kata salah satu penuntut umum, Maylany, di hadapan majelis hakim dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salaihin, Senin (17/10).

Tim penuntut umum lalu menampilkan foto-foto melalui proyektor dalam ruang sidang. Foto-foto tersebut menunjukkan momen ketika Jessica yang mengenakan kaus dan celana pendek berada di dalam ruang tahanan Polda Metro Jaya, sedang bersantai, menyelonjorkan kakinya di sofa.

Apa yang ditampilkan jaksa sontak mengundang keberatan dari pihak kuasa hukum Jessica. Menurut kuasa hukum, replik seharusnya hanya dibacakan, bukan dengan menampilkan foto-foto di luar materi replik.

Foto yang menunjukkan saat Jessica bersantai menyelonjorkan kakinya di sofa. Momen ini berlangsung saat Jessica menjalani masa tahanan di Mapolda Metro Jaya.

Foto yang menunjukkan saat Jessica bersantai menyelonjorkan kakinya di sofa. Momen ini berlangsung saat Jessica menjalani masa tahanan di Mapolda Metro Jaya.

Selanjutnya, kedua pihak sepakat di hadapan majelis hakim untuk tidak menampilkan dokumentasi tersebut. Jaksa Maylany kemudian melanjutkan pembacaan replik dengan menyinggung pernyataan kuasa hukum Jessica dengan menyinggung salah satu saksi ahli dari Australia, Profesor Beng Beng Ong. Ong hadir sebagai saksi meringankan dari pihak Jessica.

Menurut Maylany, ketika pihaknya menanyakan apakah Ong dibayar atau tidak pada persidangan yang lalu, dijawab memang dibayar oleh kuasa hukum. Namun, jawaban berbeda disampaikan kuasa hukum Jessica saat Ong diamankan di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, sehari setelah bersaksi.

“Kuasa hukum lalu di Kantor Imigrasi mengaku tidak membayar ahli Profesor Beng Beng Ong atas keahliannya untuk bersaksi di pengadilan. Apakah kuasa hukum telah tertular kebohongan terdakwa? Apakah sampai sedemikian caranya kuasa hukum berbohong untuk memenangkan terdakwa dalam kasus ini,” tutur Maylany.

Sidang pembacaan replik dari penuntut umum masih berlangsung hingga pukul 14.35 WIB. Adapun sidang ini telah berlangsung sejak pukul 13.40 WIB tadi.

Dalam kasus ini, Mirna meninggal setelah meminum es kopi vietnam di Kafe Olivier. Jessica kemudian menjadi terdakwa dalam kasus tersebut dan jaksa menuntutnya 20 tahun hukuman penjara.

Dalam repliknya, jaksa penuntut umum menolak seluruh isi nota pembelaan yang dibacakan Jessica Kumala Wongso dan tim penasihat hukumnya setebal 4.000 halaman.

Melani Wuwung, salah satu anggota JPU, mengatakan penolakan seluruh isi nota pembelaan alias pleidoi itu. Karena dalam pleidoi yang disusun tim penasihat hukum Jessica, pihak Jessica hanya memasukkan berupa potongan keterangan ahli, bukan seluruhnya.

“Karena hanyalah berupa potongan dari keterangan ahli. Tidak seluruhnya ditampilkan sebagaimana adanya,” ujar jaksa Meylani.

Menurutnya, bila keterangan ahli dipotong akan terlihat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. “Karena jika tidak dipotong, maka akan terlihat kenyataan bertolak belakang. Atas apa yang selama ini diyakini oleh terdakwa dan kuasa hukum selama ini,” kata jaksa.

Seperti diketahui, dalam persidangan dengan agenda mendengarkan pembacaan nota pembelaan alias pleidoi, pekan lalu, tim penasihat Jessica menyiapkan nota yang cukup banyak. Ada sekitar 4.000 lembar dalam nota pembelaan itu. Akibat banyaknya nota pembelaan, majelis hakim PN Jakarta Pusat terpaksa menggelar persidangan itu selama dua hari berturut-turut. (kc/gbi)