Jika Dua Paslon, Kemenangan Khofifah Ditentukan Sosok Cawagub

oleh
Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan KH Sholahuddin Wahid (kiri) dan sejumlah kiai lain di Pondok Pesantres Tebuireng, Jombang, kemarin.
Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan KH Sholahuddin Wahid (kiri) dan sejumlah kiai lain di Pondok Pesantres Tebuireng, Jombang, kemarin. Peremuan itu digelar untuk memberi pertimbangan sosok Cawagub yang akan mendampingi Khofifah.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Khofifah Indar Parawansa tak perlu berkecil hati menghadapi kompetitornya Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas yang meraup dukungan dua parpol terbesar di Jatim, PKB dan PDI Perjuangan. Peluang Khofifah merebut kursi Gubernur Jatim tetap terbuka lebar apabila memilih sosok Cawagub yang tepat, apalagi jika kontestasi pilgub nanti hanya diikuti dua pasangan calon dan .

Demikian analisis pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Haiyadi. Menurutnya, secara hitungan di atas kertas, Khofifah masih berpeluang besar mengungguli Gus Ipul yang sudah mengkandaskannya dalam dua kali Pilgub (2008 dan 2013).

“Sebab di atas kertas, jika paslon yang berkompetisi lebih dari dua, maka peluang menang Gus Ipul – Azwar Anas akan lebih besar. Sedangkan bila head to head cuma dua paslon, maka peluangnya menang bisa fifty-fifty,” ungkap Haryadi di Surabaya, Senin (16/10).

Banyak pihak menilai hitung-hitungan politik saat ini, Khofifah kalah dari Gus Ipul-Azwar Anas. Namun Haryadi menganggap hitung-hitungan politik itu sangat mungkin berubah.

Terlebih, kata Haryadi, Khofifah memiliki modal cukup besar sebagai Ketua umum Muslimat NU dan Menteri Sosial. “Jika nanti Khofifah bisa mendapat pasangan yang bagus, maka akan menjadi pesaing berat bagi Gus Ipul – Azwar Anas,” ujarnya.

Haryadi berpandangan, saat ini langkah Khofifah untuk mewujudkan mimpi menjadi Gubernur Jatim  hanya menunggu parpol pengusung dan kerja keras mesin politiknya. Ditambah lagi, kandidat pendampingnya (cawagub) juga menjadi faktor yang sangat menentukan.

”Kita ingat, salah satu faktor dominan yang membuat Khofifah dua kali  kalah di Pilgub adalah karena sosok cawagub yang dipilih tidak menunjang popularitas dan elektabilitasnya,” demikian Haryadi.

Pendapat senada ihwal sosok cawagub yang bisa memuluskan atau mengganjal laju Khoifah juga diutarakan pengamat politik Uniar lainnya, Hari Fitriyanto. Ia menyarankan agar Khofifah lebih jeli memilih pendampingnya.

“Sebaiknya mengambil calon wakil gubernur dari kalangan birokrat dan nasionalis,” ujar Hari.

Meskipun pasangan Gus Ipul-Anas selalu berada di posisi teratas survei elektabilitas, keduanya hanya merepresentasikan kelompok santri-religius atau lebih spesifik Nahdlatul Ulama. Padahal, kata Hari, terdapat kelompok lain, seperti kalangan nasionalis, birokrasi, sampai ormas keagamaan Muhammadiyah, yang suaranya tak bisa dianggap kecil.

“Jumlah pegawai negeri atau birokrat di Jawa Timur sendiri lebih dari 500 ribu orang,” ucapnya.

Menurut Hari, dukungan dari Partai Demokrat dan Soekarwo selaku Ketua DPD dan Gubernur Jatim bisa menjadi kartu truf bagi Khofifah. Sebab Soekarwo merupakan sosok nasionalis yang kuat dan punya pengaruh besar di kalangan birokrat Jatim.

“Suara Pakde Karwo di wilayah Matraman cukup kuat,” tuturnya. Hari mengatakan, suara dari kalangan pegawai dan birkorat di Jatim untuk Pakde Karwo juga akan mengimbangi dukungan kepada Gus Ipul.

Menurut Hari, hasil beberapa lembaga survei masih menunjukkan preferensi pemilih di Jawa Timur masih menginginkan pasangan nasionalis-santri atau santri-nasionalis. Karena itu, Khofifah memiliki banyak opsi orang-orang terdekat Soekarwo, yang merepresentasikan kalangan nasionalis kuat.

“Ada Kepala Inspektorat Jawa Timur Nurwiyatno, yang birokrat dan sekarang menjabat Ketua PA GMNI Jawa Timur. Yang lain ada Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Heru Tjahjono dan Kepala Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) RSU dr Soetomo Harsono,” katanya.

Saat ini, Khofifah masih bergerilya mencari sosok cawagub yang paling layak. Salah satu caranya, Khofifah meminta pertimbangan dari para kiai di Jatim.

Kemarin, Ketum PP Muslimat ini juga menggelar petemuan dengan para kiai di Ponpes Tebuireng, Jombang. Para ulama baru akan membentuk tim seleksi yang disebut tim 9.

Pertemuan itu dihadiri KH Asep Saifuddin Chalim, KH Mas Mansyur Tolhah dari Ponpes At Tauhid Surabaya dan KH Suyuti Thoha dari Banyuwangi.

“Sekarang sedang membahas siapa 7 sampai 9 ulama yang akan dilibatkan untuk memikirkan siapa yang pantas untuk mendampingi Bu Khofifah,” kata Kiai Asep kepada wartawan. (bes/bmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *