Kader Golkar Saweran Tutupi Kekurangan Biaya Munaslub

tantowi yahyaGLOBALINDO.CO, JAKARTA – Dalam beberapa hari ke depan, Partai Golkar akan menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Munaslub yang menjadi momentum konsolidasi pasca konflik berkepanjangan ini rencananya akan diadakan di Bali pada 15-17 Mei 2016.

Menjelang pelaksanaannya, persoalan biaya menjadi sorotan. Panitia Munaslub sempat mewajibkan para kandidat bakal calon ketua umum (Caketum) untuk membayar iuran sebesar Rp 1 miliar.

Belakangan, iuran ini bersifat sukarela setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan adanya potensi politik uang di dalamnya.

Wakil Ketua Organizing Committee Munaslub Golkar, Tantowi Yahya mengatakan, Munaslub membutuhkan anggaran sekira Rp 45 miliar untuk membiayai mulai dari tahapan pra hingga pelaksanaan.

Anggaran terbesar adalah untuk akomodasi, sewa gedung atau hotel, serta kegiatan Steering Committee saat kampanye di tiga zona dan debat publik yang disiarkan di stasiun televisi.

“Hampir sekitar dua pertiga anggarannya dipakai untuk itu,” kata Tantowi Yahya, Selasa (10/5/2016).

Dengan tak diwajibkannya iuran Rp 1 miliar kepada para kandidat, panitia Munaslub memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan alias saweran dari seluruh kader Golkar untuk menutupi kekurangan biaya.

Namun, Tantowi Yahya tak menyebutkan berapa kekurangan biaya untuk penyelenggaraan Munaslub dan memastikan jika saweran ini tak ada unsur paksaan kepada kader.

“Pembiayaan akan didukung secara gotong royong. Besaran urunan itu sesuai kesanggupan kader,” kata Tantowi Yahya.

Sementara itu, tahapan pra-Munaslub telah dimulai dengan sosialisasi dan kampanye di Medan, Sumatera Utara, pada 8-9 Mei lalu.

Medan menjadi lokasi pertama dari tiga lokasi sosialisasi dan kampanye yang mewakili tiga zona di Tanah Air.

“Nanti tanggal 11 di Surabaya dan 13 di Bali. Mereka yang tampil di debat publik akan disiarkan secara langsung di stasiun televisi nasional,” kata Tantowi.

Panitia, menurut dia, telah menyiapkan sejumlah tema debat untuk dipelajari delapan bakal calon ketua umum, guna memunculkan ide dan gagasan mereka terhadap sejumlah persoalan di Tanah Air.

Tema tersebut meliputi persoalan pembangunan ekonomi, peningkatan kesejahteraan melalui pendidikan dan pemerataan, serta sejumlah isu politik hukum dan keamanan lain.

“Seperti isu radikalisme, separatisme, komunisme dan keadilan hukum yang tengah menjadi sorotan publik saat ini,” kata dia.(kcm/ziz)