Kapolri Sebut Kebijakan Trump Perangi Islam Radikal Bisa Berimbas ke Indonesia

oleh

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut kebijakan presiden Amerika Serikat yang baru, Donald Trump terkait perang terhadap gerakan Islam radikal bisa berimbas pada Indonesia.

Hal itu disampaikan Kapolri saat membuka Rapat Pimpinan (Rapim) Polri 2017 di Auditorium PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).

Menurut Tito, kebijakan Donald Trump yang mengutamakan kepentingan rakyat Amerika dengan jargonnya ‘America First’ akan mempengaruhi peta politik dunia secara signifikan.

“Dampak konflik Timur Tengah dan sekaligus juga Donald Trump effect, karena kebijakannya akan mempengaruhi peta politik dunia,” kata Tito.

Ada beberapa kebijakan Trump yang menurut Tito perlu ada perhatian. Yang pertama adalah kebijakan ekonomi Trump yang menurut Tito, Trump kurang suka dengan perdagangan bebas.

“Kebijakan ekonomi yang mengutamakan perlindungan. Akan berdampak seperti masalah free trade. Dia tidak suka dengan perdagangan bebas,” jelas Tito.

Kemudian selanjutnya ada kebijakan Donald Trump yang lebih suka pada demokrasi terbatas. Menurut Tito, hal ini dapat mempengaruhi gelombang demokrasi dunia yang sudah berjalan dari dekade 1990an.

“Trump tidak terlalu suka liberal democracy. Ini membuat gelombang demokratisasi yang melanda tahun 90an bisa terhenti karena dia lebih suka demokrasi terbatas,” sambungnya.

Dan yang ketiga, Tito mewaspadai langkah Trump yang bekerja sama dengan presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mati-matian menekan gerakan Islamic State (ISIS). Tito mengungkapkan bahwa langkah itu akan mempengaruhi Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

“Kebijakannya mengenai sekuat tenaga untuk menekan kelompok-kelompok yang dia sebut radikal Islam. Ini jelas akan berpengaruh di indonesia sebagau negara muslim terbesar di dunia. Dia bekerja sama dengan Rusia untuk menekan ISIS,” imbuh Tito.

Namun di samping itu semua, Tito mengingatkan bahwa tantangan di internal lebih penting, yaitu harus membangun kepercayaan publik terhadap instansi Polri.

“Tantangan internal yang lebih penting, yaitu Polri yang lebih dipercaya publik. Dalam enam bulan, harus membangun public trust,” pungkas jenderal bintang empat tersebut.(dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *