KASAD Enggan Komentari 5.392 Granat Mematikan Yang Dipesan Polri

Mabes Polri memamerkan senjata peluncur peluru tajam, yang disebut Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL). Senjata inilah yang disorot petinggi TNI.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pernyataan petinggi TNI terkait pemesanan ribuan senjata oleh Polri kembali membuat heboh. Sebanyak 5392 butir granat yang diperuntukkan bagi korps Brigade Mobil (Brimob) Polri ternyata memiliki daya ledak tinggi dan radius jangkauan hingga 9 meter.

Saat ditanya ihwal informasi ini, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono enggan berkomentar. Alasannya, ia tak mau menambah runyam masalah ribuan senjata (granat) yang dipesan Polri ternyata sangat canggih dan mematikan.

“Kalau semua bicara, nanti jadi runyam masalahnya,” kata Mulyono saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Mulyono hadir mendampingi Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyaksikan Festival Film Nusantara 2017 di Taman Ismail Marzuki. Selain Mulyono, lengkap hadir Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi.

Mulyono mengatakan, sikap resmi dari TNI soal granat mematikan cukup dari apa yang sudah disampaikan Jenderal Gatot. “Apa yang beliau sampaikan, ya itu sajalah,” ujar Mulyono.

Mencuatnya informasi senjata mematikan yang dipesan Polri ini sebelumnya diungkapkan Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia Mayor Jenderal Wuryanto. Wuryanto menuturkan granat mematikan ini memiliki radius mematikan 9 meter dan jarak mencapai 400 meter.

Dalam militer, menurut Wuryanto, amunisi ini digunakan untuk menyerang musuh yang bersembunyi di belakang benteng pertahanan. Senjata ini disebut Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL).

“TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu,” ujar Wuryanto.

Ia mengatakan pihaknya telah memindahkan 5.392 butir granat 40 x 46 milimeter RLV-HEFJ, yang dikemas dalam 71 kotak kayu, milik Brimob ke gudang persenjataan di Markas Besar TNI, Senin (9/10) malam. Pemindahan ini dilakukan lantaran spesifikasinya tidak sesuai untuk operasi nonmiliter.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto saat dikonfirmasi mengenai pemindahan amunisi tajam ini, memilih bungkam. Ia enggan menanggapi perihal informasi tersebut.

“Saya enggak mau komentari kalau soal senjata,” singkat Setyo di sela-sela acara Apel Kasatwil di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (10/10). (tp/ady)