Kasus Bayi Tabung, Dua Saksi Ahli Kuatkan Gugatan terhadap Dr Aucky

oleh
Ketua Persatuan Dokter Otentik Indonesia (Perfitti) Dr. Budi Wiweko, SPOG, yang menjadi saksi ahli di sidang kasus perdata terkait program bayi tabung dengan tergugat Dr Aucky Hinting.
Saksi Ahli: Ketua Persatuan Dokter Otentik Indonesia (Perfitti) Dr. Budi Wiweko, SPOG, yang menjadi saksi ahli di sidang kasus perdata terkait program bayi tabung dengan tergugat Dr Aucky Hinting.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Dua saksi ahli yang dihadirkan Dr Aucky Hinting, tergugat perdata terkait kasus wanprestasi program bayi tabung, Dr. Budi Wiweko, SPOG, selaku Ketua Persatuan Dokter Otentik Indonesia (Perfitti) dan  DR. Ghansham Anand, menyampaikan keterangan mengejutkan di persidangan, Rabu (25/10). Kedua saksi malah memperkuat gugatan Tomy Han dan Evelyn Soputra selaku pasien bayi tabung terhadap Aucky.

Dalam persidangan yang digelar di Ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya, Dr Budi Wiweko mengatakan, penggugat tidak termasuk pasien infertilitas sekunder. Artinya, pasutri yang tidak hamil dalam waktu satu tahun (tidak normal).

“Tapi jika sebelumnya sudah hamil (pasangan normal), proses bayi tabung itu tak boleh dilakukan,” terang Budi Wiweko saat menjawab pertanyaan tim kuasa hukum penggugat, Eduard Rudy Suharto pada persidangan, Rabu (25/10).

Sementara DR. Ghansham Anand , SH, Mkn, Ahli Hukum Perdata dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, perjanjian antara penggugat dengan tergugat merupakan perjanjian upaya. Namun, jika perjanjian awal disertakan bukti dengan aseoir maka bukan lagi disebut perjanjian upaya, melainkan sudah perjanjian hasil.

“Kalau memang ada bukti yang seperti dimaksud, maka perjanjian itu bukan perjanjian upaya lagi, tapi sudah menjadi perjanjian hasil. Kkarena sudah menyebut jenis hasil kelamin bayi pada proses bayi tabung tersebut,” kata Ghansham Anand saat dihadirkan saksi ahli oleh Aucky Hinting selaku penggugat.

Usai persidangan, ketua tim kuasa hukum penggugat, Eduard Rudy Suharto mengatakan, keterangan dua ahli yang dihadirkan pihak tergugat justru menguatkan gugatannya.

“Sudah jelas apa yang diterangkan dua saksi ini semakin menguatkan gugatan kami,” ujar Eduard Rudy.

Selain itu, Eduard mengatakan, apa yang dilakukan tergugat pada kliennya, sudah merupakan pelanggaran berat dan telah berorientasi bisnis. “Dan itu dibenarkan oleh saksi Dr Budi SPOG pada persidangan tadi,” pungkas etua DPC KAI Surabaya ini.

Untuk diketahui, Kasus ini bermula saat  Tomy dan Evelyn yang ingin memiliki bayi laki-laki akhirnya mengikuti program bayi tabung di dokter Aucky Hinting dengan membayar biaya Rp 47 juta. Singkat cerita, bayi yang dilahirkan Evelyn ternyata berkelamin perempuan. Ironisnya lagi, bayi tersebut kerap keluar masuk rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang buruk.

Selain menggugat Aucky Hinting, Tomy Han dan Evelyn Soputra juga menggugat IDI Surabaya dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya, lantaran dianggap melakukan pembiaran adanya mal praktek di Klinik Ferina, milik Aucky Hinting. (adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *