Kasus Penipuan Kontraktor Tol Solo-Kertosono, Saksi Sebut Pelapor Bukan Pemberi Utang

Terdakwa Salim Himawan Syahputra (kiri) didampingi tim pengacaranya mendengarkan keterangan saksi di sidang lanjutan kasus penipuan dan penggelapan, di Pengadilan Surabaya, kemarin.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kasus utang piutang yang menjerat bos PT Guna Karya Pembangunan, Salim Himawan Syahputra sebagai terdakwa kian pelik. Elizabeth Kaverya selaku pelapor yang menyeret Salim ternyata tidak terkait langsung masalah utang piutang ini dengan terdakwa.

Dalam sidang mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Negeri Surabaya, kemarin (6/11), terungkap bahwa Elizabeth hanya anak buah Leny Anggraini, rekan bisnis yang memberi pinjaman kepada terdakwa Salim.

“Saya tahu kronologinya utang piutang itu. Utang piutang ini antara Salim dan Leny, bukan Elizabeth,” ungkap Pandu di hadapan Majelis Hakim yang dipimpin Dedy Fardiman di ruang sidang Garuda, PN Surabaya, kemarin.

Saksi yang juga anak buah terdakwa Salim ini mengatakan, Leny memberi pinjaman uang Rp 500 juta kepada bosnya untuk membeli eskavator. Ia menegaskan, perjanjian utang piutang ini dilakukan langsung antara bosnya dengan Leny. Perjanjian utang piutang ini dalam bentuk Letter of Intent (LoI).

Menurut saksi, saat ditagih untuk membayar utang itu, Salim telah menyetor sebesar Rp 300 juta dalam bentuk cek giro.  “Saya sebagai saksi pembayaran Rp 300 juta,” kata saksi menjawab pertanyaan kuasa hukum, terdakwa Salim, Sudiman Sidabuke.

Makanya, saksi merasa aneh karena jutsru Elizabeth yang melaporkan masalah utang piutang ini sebagai tindak pidana penipuan dan penggelapan. “Elizabet dia bekerja untuk Leny. Saya juga,” ungkap saksi yang bekerja di bagian administrasi proyek di perusahaan milik Salim.

Kesaksian Pandu ini mementahkan keterangan saksi di sidang sebelumnya, Burhanuddin dan Thomas sekaligus  meringankan terdakwa. Sekadar mengingatkan, pada kesaksian sebelumnya Burhanuddin yang juga karyawan Leny, menyebutkan jika uang yang dipinjam Salim itu nilainya Rp 585 juta.

”Saya beberapa kali ikut mengantar bu Elizabeth ke bank untuk mentransfer uang ke Salim,” katanya. Tetapi, menurut Burhanuddin, duit itu tidak  pernah dipakai untuk membeli eskavator.

Uang pinjaman itu, menurut dakwaan jaksa malah dipakai terdakwa untuk membiayai kebutuhan operasional proyek proyek tol Solo-Kertosono yang sedang dikerjakan PT Guna Karya Pembangunan. Dakwaan jaksa juga menyebutkan jika Salim tidak pernah mengembalikan atau membayar cicilan utangnya kepada Elizabeth.

Terkait hubungan Elizabeth dengan Leny pun terdapat keterangan berbeda antara saksi Pandu dan Burhanuddin. Jika Pandu menyebut Elizabeth adalah karyawan Leny, saksi Burhanuddin justru mengatakan apabila pelapor adalah kolega bisnis bosnya.

Mendapati keterangan yang berbeda dari kedua saksi tersebut, Ketua Majelis Hakim Dedy Fardiman memutuskan untuk menunda sidang. Sebelumnya, Hakim Dedy sempat mengkonfirmasi keterangan saksi Pandu tadi kepada terdakwa yang dibenarkan seluruhnya oleh terdakwa Salim. (ady)