Kejati Segera Sita Kolam Renang Brantas

oleh
Kepala Kejati Jatim, Sunarta disela peringatan Hari Bhakti Adhiyaksa ke-58 di kantor Kejati Jatim, Jalan Ahmad Yani, Senin (23/7).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) akan menyita kolam renang Brantas Jalan Irian Barat 37-39, Surabaya. Penyitaan aset Pemerintah Kota Surabaya yang diambil alih pihak swasta itu menyimpan banyak bukti dugaan penyelewengan yang tengan disidik kejaksaan.

“Penanganan kasus korupsi juga harus bisa menyelamatkan aset pemerintah,” kata Kepala Kejati Jatim, Sunarta disela peringatan Hari Bhakti Adhiyaksa ke-58 di kantor Kejati Jatim, Jalan Ahmad Yani, Senin (23/7).

Terkait penyidikan kasus dugaan korupsi di kolam renang Brantas, Kejati Jatim sedikit mengalami hambatan. Pasalnya, salah satu saksi kunci, yakni Tejo Bawono alias Tjoa Bin Kie sudah meninggal dunia pada awal Januari 2018.

Pria yang meninggal dunia di usia 71 tahun adalah orang yang mengklaim sebagai pemilik sekaligus pengelola kolam renang Brantas. Namun begitu, Kejati Jatim tetap melanjutkan penyidikan kasus ini. Bahkan, anak dari Tejo sudah diperiksa untuk pendalaman perkara.

“Kami tetap lanjutkan penyidikan. Kan bisa jadi ada pihak lain yang terlibat dalam perkara ini (dugaan korupsi kolam renang Brantas,” tandas Sunarta.

Kasus dugaan korupsi akibat penyalahgunaan aset kolam renang yang dibangun Belanda di tahun 1924 ini berawal dari kerjasama Pemkot dengan pihak ketiga dalam pengelolaan aset yang mempunyai luas 222 meter persegi tersebut hingga kepemilikannya beralih tangan kepemilikan ke pihak swasta. Pemkot sempat mengajukan gugatan, namun kalah hingga tingkat Mahkamah Agung (MA).

Untuk lebih detil berapa kerugian negaranya, Kejati menunggu hasil audit BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). “Kami sudah banyak menyita aset. Terakhir kami menyita aset PT Abattoir Surya Jaya. Aset itu berupa tanah senilai Rp26 miliar,” imbuh Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Aspidus) Kejati Jatim, Didik Farkhan Alisyahdi.

Kejaksaan sebelumnya juga berhasil menyelamatkan sejumlah aset Pemkot Surabaya yang sempat diambil swasta. Di antaranya yakni Gedung Gelora Pancasila dan Jalan Kenari. Dua aset itu dikembalikan setelah proses penyidikan rampung. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *