Ketua DPC KAI Versi ISL Surabaya Diadili

oleh
Salah satu saksi saat memberikan kesaksian. Tampak Eduard Rudi (dua dari kanan).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Ketua DPC KAI Versi Indra Sahnun Lubis (ISL), Ir Eduard Rudi Suharto, kembali digelar di PN Surabaya, Rabu (17 Oktober). Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan para saksi.

Dua saksi yang dihadirkan yakni, Dian Sanjaya sebagai saksi korban dan saksi Rosita sebagai staff keuangan di perusahaan bongkar muat barang milik Dian Sanjaya.

Saat memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, saksi korban, Dian Sanjaya mengaku terpedaya atas janji yang diberikan terdakwa Eduard Rudi, terkait lelang rumah aset Bank Mandiri Cabang Surabaya.

Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Maxi Sigarlaxi SH MH, Dian mengungkapkan jika terdakwa Ir Eduard Rudi telah memberikan kepastian kepada saksi bakal memenangkan lelang rumah dari Bank Mandiri.

Setelah Dian diberikan kepastian akan memenangkan lelang rumah di kawasan Pakuwon, kedua belah pihak lantas membuat MoU antara terdakwa dengan saksi korban.

Sebelum MoU dibuat, terdakwa Eduard telah menyampaikan kepastian kepada saksi Dian bahwa akan menang lelang dengan harga yang disepakati sebesar Rp. 3,9 M (Tiga miliar sembilan ratus juta rupiah).

“Setelah perkara ini berjalan, saya baru tahu kalau Eduard Rudi bukan peserta lelang,” ujar saksi korban Dian Sanjaya saat bersaksi di ruang sidang Sari II Pengadilan Negeri Surabaya.

Dari harga 3,9 M yang disepakati dalam perjanjian bersyarat tersebut, saksi Dian telah melakukan pembayaran lunas dengan mentransfer Rp. 4 M melalui saksi Rosita sebanyak lima kali tranfer.

Tak hanya itu, dalam MoU dituangkan batas waktu 120 hari rumah tersebut harus diserahkan kepada saksi korban. Akan tetapi setelah batas waktu yang ditentukan tersebut, terdakwa Ir Eduard Rudi Suharto tak kunjung memberikan rumah.

“Dari harga yang disepakati 3,9, saya bayar lebih sebesar Rp. 4 miliar, ada kelebihan 100 juta. Setelah batas tempo, saya sempat menanyakan beberapa kali, tapi terdakwa bilang ada masalah sedikit, saat saya cek ke lokasi, pemilik rumah bukan terdakwa,” tukasnya.

Setelah saksi korban tidak mendapatkan kepastian atas lelang rumah dengan batas waktu yang telah ditentukan dalam MoU, pada bulan Maret 2017 saksi melaporkan perkara ini ke Direskrimum Mapolda Jatim.

Setelah terdakwa Eduard mengetahui telah dilaporkan dalam perkara ini, Ia lantas melakukan mediasi. Dalam mediasi tersebut, duit 3,9 miliar telah dikembalikan terdakwa sebesar Rp. 3,5 miliar pada Agustus 2017.

Ketua Majelis, Maxi Sigarlaki SH MH, memberikan pertanyaan kepada saksi korban, Dian Sanjaya, terkait apa yang mendasari bahwa saksi korban dengan mudah menerima tawaran lelang rumah tersebut.

“Saya melihat latar belakangnya, dia (terdakwa) seorang lawyer (pengacara),” jawab saksi Dian.

Anehnya lagi, saat kasus ini sudah bergulir di Polda Jatim, setelah tengah dilakukan mediasi agar Eduard Rudi mengembalikan uang korban Rp. 3,5, ternyata Eduard Rudi malah melayangkan gugatan ke pihak Dian Sanjaya.

“Kok aneh…” guman Maxi Sigarlaki SH MH di tengah sidang.

Dari keterangan di depan majelisvhakim, Korban yang sudah ditipu senilai 3,9 miliar malah digugat oleh terdakwa Efuard Rudi sebesar Rp. 5 miliar dan ‘diancam’ akan disita aset kantor dan rumahnya.  Terdakwa beralasan bila uang yang dikirim korban adalah hutang piutang.

“Saya memiliki bukti surat gugatan Rp. 5 Miliar yang dilayangkan oleh pihak terdakwa melalui lawyer nya,  isi gugatan tersebut karena Pak Eduard Rudi merasa tercemar namanya dan sudah keluar biaya lawyer,” ujarnya.

Sidang dipimpin dengan gaya santai dengan selipan guyonan oleh ketua majelis hakim Maxi Sigarlaki SH MH. Beberapa kali pertanyaan pengacara dari Ir Eduard Rudi yang tidak relevan dipotong Maxi hingga membuat posisi terdakwa makin terpojok. Seperti saat pengacara menanyakan batas waktu pengembalian uang.

“Walau tak tertuang di MoU, kan logis saja kalau terdakwa mestinya segera mengembalikan, masak nunggu 10 tahun,” ujar Maxi disambut senyum beberapa pengunjung sidang.

Rencananya sidang akan kembali digelar pada pekan depan, Rabu (20/10) dengan mendatangkan saksi lain, yakni istri korban dan saksi A De Charge. (ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *