Ketua HMI Cabang Surabaya Minta Masyarakat Tidak Terbelenggu Isu People Power

oleh
Ketua Cabang HMI Kota Surabaya, Andik Setiawan (paling kanan) dalam acara forum diskusi di salah satu hotel di Surabaya.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Surabaya, Andik Setiawan memberikan catatan tajam terhadap desakan aksi people power yang akhir-akhir ini meramaikan linimasa di berbagai media.

Ditemui dalam acara forum diskusi yang digelar oleh HMI, Andik Setiawan meminta agar masyarakat tidak terbelenggu dengan ramainya pemberitaan soal people power tersebut.

“Kalau diskusi soal people power dianggap 02, kalau diam dianggap 01. Harusnya tidak begitu,” kata Andi di acara yang bertajuk ‘Positive People with Positive Power’ itu.

Andik Setiawan menegaskan, aksi people power harus dipahami secara objektif. Diantaranya dengan mengadakan justifikasi ilmu pengetahuan. Mengingat people power tidak bisa begitu saja dilakukan.

“Jadi tidak sesederhana 01 atau 02. People power lebih dari itu. Harus dilihat apakah benar-benar menyangkut kepentingan banyak orang atau tidak,” lanjut Andik.

Melihat kondisi sekarang, alumni Universitas Airlangga (Unair) menilai jika aksi people power saat ini belum dibutuhkan. Menurut dia, yang diperlukan sekarang adalah people pressure.

“Kondisi saat ini berbeda dengan tahun 1998,” cetus Andik.

Andik kemudian mencontohkan kasus dugaan kecurangan dalam penyelenggaran Pemilihan Presiden oleh salah satu kubu dalam Pilpres. Dengan people pressure, masyarakat bisa meminta pemerintah maupun KPU menjelaskan kondisi yang sebenarnya.

Begitu juga dengan dugaan institusi kepolisian yang selama gelaran pilpres dianggap tidak netral, melalui desakan masyarakat Korp Bhayangkara bisa menjelaskan secara langsung benar tidaknya tudingan itu pada rakyat.

“Ini memang harus dilakukan. Dari berbagai kasus yang ada di Pemilu, salah input data hingga kematian KPPS harus dikuliti apa inti permasalahan agar bisa holistik. Ini harus dilihat secara obyektif. Dilihat pemaknaannya,” tandasnya.

Senada dengan Andik Setiawan, Presiden BEM Unair, Agung Tri Putra juga menegaskan jika people power masih belum diperlukan di tanah air. Menurutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jauh lebih mahal dari pada soal Capres-Cawapres.

“People Power itu lebih kebagaimana cara kita hidup. Jadi harus ada yangg benar menyangkut kepentingan banyak orang. Apakah menyentuh ranah esensial di tengah kehidupan,” ujar Agung.

Sambil bercanda Agung Tri Putra menyebut jika saat ini people power masih kalah dengan Ta’jil Power. Untuk itu, anak muda harus menguliti semua gagasan yangg ada agar tidak terseret dalam pusaran yang tidak perlu.

“Kalau people power yang lagi viral ini apa? Kalau ta’jil power ini kan jelas, makanan. Makanya jangan dulu bilang people power,” pungkasnya. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.