Kisah Heroik Pekerja PLN Pasang Listrik di Pedalaman Papua

pln-papuaGLOBALINDO.CO, PAPUA – Wilayah Papua kini menjadi perhatian pemerintah dalam hal pembangunan. Salah satu sektornya di bidang kelistrikan. Papua merupakan daerah dengan pembangunan paling tertinggal di Indonesia. Di sektor kelistrikan, rasio elektrifikasi Papua baru 45%, paling rendah di seluruh Indonesia. Selain itu masih ada 364 ibu kota kecamatan (distrik) dan sekitar 3.500 desa yang belum dialiri listrik.

Membangun infrastruktur kelistrikan di Papua ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Wilayah Papua tidak seperti Jawa atau Sumatera yang sudah memiliki jalan raya sehingga satu daerah dan daerah lainnya sudah terhubung dan mudah dijangkau.

Di Papua, infrastruktur perhubungan masih belum memadai. Banyak kabupaten yang terisolasi. Misalnya Wamena yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat kecil karena belum ada jalan darat ke sana.

Untuk menjangkau wilayah ini, material pembangkit listrik dan jaringannya harus diangkut lewat udara dengan ongkos yang tidak murah.

Selain itu, para pekerja PLN juga harus menembus hutan dan pegunungan, melawati rintangan tanah merah berlumpur dan tantangan alam lainnya. Para pekerja PLN harus berjalan perlahan dalam kubangan lumpur yang tingginya sepinggang sambil memanggul tiang listrik di tengah hutan.

Pekerja PLN lainnya juga harus memanjat tiang-tiang setinggi kurang lebih 5 meter di tengah dinginnya pegunungan Papua.

Di tengah pegunungan Papua, pekerja PLN menancapkan tiang-tiang, membangun tower-tower, memasang kabel-kabel, dan sebagainya untuk mendistribusikan listrik kepada warga.

Kerja keras dan penuh heroisme ini kini membuahkan hasil. Pedalaman Papua bisa mulai terang benderang. Pada 17 Agustus 2016 lalu, PLN sudah masuk ke Kabupaten Teluk Wondama, Raja Ampat, dan Pegunungan Arfak.

Kemudian di Hari Listrik Nasional tanggal ke-71 pada 27 Oktober 2016, giliran 2 kabupaten di pedalaman Papua yang terang benderang berkat PLN, yaitu Kabupaten Deiyai dan Yahukimo.

Pada hari pertama mengalirnya listrik di Kabupaten Deiyai, 150 rumah telah menjadi pelanggan PLN. Masih ada 500 rumah lagi yang menunggu untuk mendapat sambungan listrik dari PLN.

Yoel, salah satu penduduk Deiyai yang sudah menjadi pelanggan PLN menuturkan, sebelumnya ia terpaksa membakar solar untuk menyalakan genset agar rumahnya terang di malam hari. Biasanya Yoel menyalakan genset pada pukul 17.00 WIT sampai 22.00 WIT.

Untuk listrik selama 5 jam per hari itu, diperlukan 5 liter solar. Solar yang dibeli dari pengecer di Deiyai harganya Rp 10.000 liter. Artinya, setiap malam Yoel menghabiskan Rp 50.000 atau Rp 1,5 juta per bulan hanya untuk listrik 5 jam per hari.

“Saya (sebelum ada listrik PLN) biasanya setiap malam menyalakan genset. Sehari 5 liter, belinya di pengecer dekat sini, harganya Rp 50.000,” kata Yoel, Jumat (28/10/2016).

Sekarang dengan adanya listrik PLN, Yoel bisa mendapat listrik 24 jam dengan harga yang jauh lebih murah. Pria yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Deiyai ini pun gembira, anak-anaknya sekarang bisa belajar tekun dan menonton televisi di malam hari.(dtc/ziz)

Tags: