Kisah Miftah Anak TKW yang Menuai Simpati Banyak Orang

batuan-anak-tkiGLOBALINDO.CO, PONOROGO – Meninggalnya Miftahul Dwi Khasanah, siswi kelas II SMP Maarif Ponorogo, Akibat ditabrak sepeda motor menuai simpati banyak orang.

Tak hanya warga sekitar Ponorogo, uluran bantuan masih terus bergulir dari berbagai daerah meski tim donasi sudah menutup penerimaan bantuan sejak tadi malam.

Miftah, merupakan panggilan anak kedua pasangan Pujo Kastowo dan Samini Indrawati, ini menjadi trending topic media sosial dan perbincangan hingga di warung kopi setelah tewas ditabrak siswa SMK PGRI II Ponorogo di Jalan Niken Gantini, Kelurahan Singosaren, Ponorogo, Selasa (25/10/2016).

Dia menjadi buah bibir banyak orang lantaran kehidupannya yang serba kekurangan sejak ditinggal ibunya bekerja ke luar negeri delapan tahun silam.

Bersama dengan bapak dan adiknya, Jofi, Miftah tinggal di rumah berdinding bambu berukuran 6 kali 5 meter. Di dalam rumahnya, Miftah tidur di kasur ynag sangat lusuh bersama adiknya. Sementara itu, bapaknya tidur beralaskan tikar.

Agar tidak dicuri atau hilang, setiap malam, dua ekor kambing betina milik Pujo juga ikut dimasukkan ke rumah dan tidur bersama mereka. Maka dari itu, tak heran bila banyak ditemukan kotoran kambing di berbagai tempat di rumah itu.

Mirisnya lagi, saat hujan lebat tiba, atap rumah banyak yang bocor dan tiupan angin membawa air masuk ke rumah.

Untuk buang air, Miftah harus pergi ke kebun lantaran mereka tak memiliki kamar mandi. Biasanya, untuk mandi, bapaknya menimba air dengan kaleng bekas cat.

“Kalau Miftah mandi, saya dan adiknya keluar dari rumah, sedangkan saya sering mandi di sungai dan adiknya,” kata Pujo.

Tertabrak motor, peristiwa naas dialami Miftah terjadi saat ia pulang menggunakan sepeda ontel menuju rumahnya usai mengantar teman sekolahnya di Perumahan Singosaren, Ponorogo.

Kronologi, Miftah Ketika menyeberang jalan raya, tiba-tiba, muncul sepeda motor Suzuki FU yang dikemudikan FD. Tabrakan pun tak dapat dihindari.

Miftah roboh ke jalan aspal dan kepalanya bersimbah darah. Sehari kemudian, Miftah mengembuskan napas terakhirnya di RSU Madiun sebelum sempat dioperasi kepalanya lantaran mengalami pendarahan di bagian otak.

Tak hanya itu, sosok Miftah banyak memberikan semangat bagi Pujo setelah istrinya Samini Indrawati delapan tahun tanpa kabar pergi merantau menjadi TKW di Malaysia.

“Sejak berangkat delapan tahun tepatnya tahun 2008, istri saya tidak memberikan kabar dan kiriman apa pun kepada kami,” kata Pujo kepada Kompas.com di kediaman saudaranya, Selasa ( 1/11/2016) sore.

Istrinya baru menelepon tiga hari setelah Miftah dikuburkan. Tak banyak omongan yang dilontarkan Samini saat menelepon suaminya, Pujo.

“Dia hanya menanyakan kabar anak-anaknya, lalu menangis. Katanya nanti akan pulang ke Ponorogo setelah 40 hari meninggalnya Miftah,” ujar Pujo.

Sebelum Miftah meninggal, Pujo tak memiliki firasat atau mimpi buruk tentang anak perempuannya itu. Hanya, beberapa hari sebelumnya, saat mencuci pakaian Miftah, dia menemukan secarik kertas yang dilipat.

“Setelah saya buka, ternyata tulisan curahan hati Miftah yang merindukan kasih sayang seorang ibu. Sebagai seorang anak yang memiliki orangtua, Miftah juga menginginkan kasih sayang ibu yang dirasakan oleh teman-teman sekolahnya. Kondisi itu sangat dirasakan anak saya lantaran Miftah mulai ditinggal ibunya bekerja ke Malaysia dalam usia lima tahun,” kata Pujo.

Selama delapan tahun ditinggalkan ibunya bekerja di Malaysia, Miftah tidak pernah mendapatkan kiriman apa pun, baik dalam bentuk uang maupun barang.

Saat Lebaran tiba, ibunya juga tidak menyampaikan selamat dan permohonan maaf.

“Saya kalau ingat Miftah sangat kasihan. Beberapa hari sebelum meninggal, dia kerap melamun dan seperti berpikir keras. Miftah juga sering menanyakan kapan ibunya pulang karena ia sangat kangen ibunya,” kata Pujo.

Sebagai seorang ayah, kata Pujo, kasih sayangnya tentu akan berbeda dibandingkan dengan yang diberikan ibu kepada anaknya.

Untuk itulah, agar kasih sayangnya bisa mengganti ibunya, dia selalu mengajak kedua anaknya ke mana saja saat mendapatkan order pijat badan pelanggannya.

Ia pun merasa bersyukur meski Miftah yang berlatar belakang keluarga miskin, tetapi teman-temannya banyak. Pasalnya, saat bergaul dengan teman-temannya, dia tidak pernah membedakan-bedakan teman. Semua teman diperlakukan sama.

“Anak saya juga sebenarnya pintar, tetapi karena sering mengantar saya ke pelanggan pijat badan, dia menjadi kurang belajarnya,” kata Pujo.

Kendati mendapatkan berlimpah bantuan, Pujo tak lupa menyisihkannya untuk sedekah. Bahkan, sedekah itu salah satunya ditujukan di tempat mengaji saat Miftah masih tinggal di Madiun.

“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah peduli dengan Miftah dan keluarga saya. Saya yakin Tuhan akan membalas kepada semua pihak yang sudah membantu kami,” kata Pujo.

Hasil perhitungan tim donasi Miftah, hingga Senin (31/10/2016) malam, sumbangan dana yang terkumpul mencapai Rp 650.121.314. Dana itu berasal dari sumbangan langsung yang diberikan warga kepada ayah Miftah, donasi via rekening, klaim Jasa Raharja, dan donasi dari komunitas.

“Rinciannya dana yang diberikan langsung kepada Pak Pujo sebesar Rp 367.595.600, donasi via rekening Rp 164.298.050, klaim Jasa Raharja Rp 25 juta. Selain itu, donasi dari tiga komunitas, ICW Ponorogo Rp 63.727.664, Rumah Dhuafa Ponorogo Rp 26.500.000, dan Facebooker Ponorogo Rp 3 juta,” ujar Ketua Tim Donasi untuk Miftah, Muhammad Anam Ardiansah, kepada wartawan di kediaman almarhumah Miftah, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Selasa (1/11/2016) siang.

Tim Donasi untuk Miftah menggelar jumpa pers sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik setelah menutup pengumpulan bantuan donasi kepada Miftah.

Penutupan itu pun atas permintaan bapak kandung Miftah, Pujo, karena masih banyak orang yang membutuhkan bantuan.

Rencananya, uang yang terkumpul diperuntukkan membangun rumah tembok baru hingga membangun usaha bagi orangtua Miftah.

Selain itu, dana yang terkumpul juga akan digunakan orangtua Miftah untuk bersedekah dan infak.

“Bahan bangunan sudah siap. Mulai besok rumah Miftah kami bedah dan bangun baru,” kata Anam.

Anam menambahkan, keluarga Miftah belum mendapatkan bantuan dari pemerintah lantaran persoalan KTP Pujo yang masih berstatus warga Kabupaten Madiun. Padahal, selama ini Pujo sudah tinggal begitu lama di Ponorogo.

Sementara itu, meski tim sudah menutup bantuan donasi, tampak masih banyak simpatisan yang mendatangi rumah Pujo. Beberapa warga yang datang membawa segepok uang terbungkus dalam amplop diberikan langsung kepada ayah kandung Miftah.

Tak hanya warga lokal, beberapa warga yang datang lebih banyak mewakili para TKI dan TKW yang masih bekerja di luar negeri dan mengirimkan bantuan kepada keluarga Miftah.

Beberapa warga yang datang mengaku mewakili perkumpulan TKI dan TKW dari Hongkong, Malaysia, dan Taiwan.

“Saya dari Magetan, tadi istri saya telepon dan mengirim uang hasil donasi yang dikumpulkan teman-teman TKW di Hongkong untuk disumbangkan kepada orangtua Miftah,” ujar Yono, warga Panekan, Magetan, seusai menyerahkan bantuan. (km/nh)