Klienya Disudutkan Media Online, Pieter Talaway Akan Tempuh Jalur Hukum

oleh
Pieter Talaway.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kuasa hukum Daniel alias Kho Yusac alias Johanes, dan Lani alias Kho Sarah, Pieter Talaway membantah pemberitaan di salah satu media online, jika klienya melakukan pemerasan dan suap terkait perkara PK No. 480PK/Pdt/2017.

“Klien kami tidak pernah memberikan uang sebesar Rp. 50 Miliar atau menjanjikan akan memberikan uang kepada siapapun terkait dengan perkara Peninjauan Kembali (PK) 480PK/Pdt/2017,” Ujar Pieter Talaway melalui keterangan tertulisnya, Senin (17/9/2018).

Pieter juga mengancam pada oknum yang sengaja mendiskreditkan klienya lewat pemberitaan di media Online tersebut, dengan mempersiapkan tuntutan hukum.

“Kami akan mencari tahu dan mempersiapkan tuntutan hukum kepada siapapun yang dengan sengaja menyuruh memasukkan berita bohong (Hoax) pada media online tersebut,” Tegas Pieter.

Dilansir dari portal Beritalima.com, Daniel alias Kho Yusac alias Johanes, dan Lani alias Kho Sarah. Dituding telah melakukan pemerasan pada pasangan suami istri Maria Lisdiana Tandjung dan Ir.Vincentius F.Sugiarto Tandjung dengan meminta sejumlah uang senilai 50 Miliar.

Dalam berita tersebut, Daniel dan Lani dituduh sebagai perantara alias “Makelar Kasus (Markus). Uang Rp. 50 Miliar itu dikatakan digunakan untuk melakukan suap pada majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) terkait perkara upaya hukum Peninjauan Kembali (PK), Nomer 480PK/Pdt/2017 yang diajukan Maria Lisdiana Tandjung dan Ir.Vincentius F.Sugiarto Tandjung.

Selain dituding menyuap hakim MA, Ko Yusac dan istrinya juga dituduh melakukan pemaksaan pada Lisdiana Tanjung dan Sugiarto Tanjung, untuk menandatangani blanko jual beli kosongan di kediaman Robert Bono di Jakarta pada akhir Juli 2018.

Jual beli itu menyangkut tiga buah rumah milik Sugiarto, yang katanya dijadikan jaminan untuk uang 50 Milar yang dimaksud.

“Isi berita yang termuat dalam media online beritalima, tanggal 3 September 2018, dengan judul, (Aroma dugaan suap Ngabar Sampai Surabaya, Humas MA Ngaku tak Mencium), adalah tidak benar, bombastis,serta tidak memuat perimbangan berita (cover botshide),” terang Pieter

Berita tersebut menurut Pieter, adalah tudingan yang sengaja dihembuskan oleh seseorang yang merasa kecewa akibat putusan dalam perkara tersebut. Pieter menyatakan hal itu dapat dikategorikan sebagai tindakan Contemt Of Court.

“Berita suap tersebut jelas telah mendiskreditkan Majelis hakim MA, dan lembaga mahkamah agung RI. Sehingga dapat dikualifikasi sebagai tindakan Contemt of Court.” Pungkasnya. (Ady/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *