Komisi Hukum Dukung Antasari Ungkap Otak Pembunuhan Nasruddin

Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar segera bebas bersyarat.

Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar segera bebas bersyarat.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Komisi III DPR membuka pintu lebar bagi mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar untuk menguak pihak-pihak yang sengaja menjebak hingga menjebloskannya ke penjara. Antasari diminta tidak menyembunyikan dan berjuang sendirian untuk menyeret pihak lain yang sejatinya menjadi otak pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasruddin Zulkarnaen.

“Terbuka saja. Biar siapa yang menzalimi dia bisa terungkap. Diungkap ke publik. Boleh juga Komisi III. Kami terbuka, kalau dia memang mau melapor ke sini siapa yang mendorong dia masuk ke penjara,” kata Ketua Komisi III Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/9).

Dukungan senada juga disampaikan anggota Komisi III Ruhut Sitompul. Ia mendukung mantan Ketua KPK itu membongkar `dalang` di balik kasus tersebut. 

“Ayo hidupin kasusnya. Jadi Rambo dong. Jangan sentimentil kayak Rinto. Kalau ada yang dia curigai, laporkan. Ngomong dong,” kata Ruhut.

Sekitar sepuluh bulan tahun terakhir, Antasari tengah menjalani asimilasi di Kantor Notaris Handoko Halim. Sebagai ganjarannya, Antasari akan menghirup udara bebas pada November nanti dengan status bebas bersyarat.

Antasari didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Nasruddin dan diancam Pasal 340 jo Pasal 55 ayat kesatu dan kedua KUHP, Kamis 8 Oktober 2009. Pada 11 Februari 2010, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin Herry Swantoro memvonis Antasari selama 18 tahun penjara. Di pengadilan tertinggi, hukuman Antasari tidak berubah.

Mabes Polri menganggap kasus pembunuhan berencana terhadap Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasruddin sudah tutup buku. “Sudah dilakukan proses pengadilan, sudah ada vonis dan putusannya,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Agus Riyanto di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dalam sebuah kesempatan talkshow di sebuah televisi Rabu malam (24/8) lalu, Antasari bercerita soal orang yang berkepentingan membuatnya menjadi tertuduh.

“Sangat tahu. Saya sangat tahu. Tetapi, saya dulu Kapuspen (Kepala Pusat Penerangan) di Kejaksaan Agung, saat wartawan tanya, saya akan jawab, banyak hal yang saya tahu tetapi tidak semua hal yang saya tahu bisa saya ungkapkan,” kata pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung itu.

Namun Antasari tidak mengungkapkan identitas lengkapnya. Antasari hanya  menegaskan tidak ada cinta segitiga antara dirinya, Nasruddin dan Rani Juliani.

“Omong kosong itu semua. Saya bisa dihadapkan dengan yang bersangkutan sekarang di sini. Omong kosong. Tidak ada cinta segitiga,” tegas Antasari.

Demikian pula pengakuan Andi Syamsuddin. Sejak kasus ini mencuat pada 14 Maret 2009 silam, Andi yakni Antasari bukanlah pembunuh kakaknya.

“Dari awal saya tidak yakin pak Antasari pembunuhnya. Saya ingat ada statement yang diplintir saat itu. Saat itu saya berkata, ada orang besar, pejabat besar yang menjadi dalang pembunuh saudara saya,” ucap adik Nasruddin Zulkarnaen ini.

Andi menambahkan, orang besar yang dimaksud bukanlah Antasari. Namun orang atau pejabat yang lebih besar (powerfull) dari Antasari yang saat itu menjabat Ketua KPK. (met/gbi)