Korupsi Investasi Pertamina, Kejagung Periksa Mantan Dirut

oleh
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Galaila Karen Agustiawan.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus kembali memeriksa mantan Dirut PT Pertamina (Persero) Galaila Karen Agustiawan, pada Rabu (14/2). Karen diperiksa sebagai saksi dugaan korupsi investasi perusahaan BUMN tersebut di Blok Basker Manta Gummy, Australia tahun 2009.

“Galaila Karen Agustiawan menerangkan mengenai proses keputusan terkait dengan proyek untuk lapangan minyak di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung M Rum di Jakarta, Rabu malam (14/2).

Selain Karen Agustiawan, penyidik juga memeriksa mantan Komisaris PT Pertamina, Humayun Bosha. Penyidik ingin mengorek lebih dalam terkait proses pemberian izin oleh komisaris kepada direksi untuk melakukan investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia.

Kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina berawal dari kegiatan akuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset (interest participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada tahun 2009. Perjanjian akuisisi itu berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project pada tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya, ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan Investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi. Usulan investasi itu diduga tanpa menyertakan feasibility study (kajian kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligencedan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris.

Akibatnya, penggunaan dana sejumlah 31.492.851 USD serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26.808.244 USD tidak sesuai peruntukan. Selain itu, investasi itu juga tidak memberikan keuntungan kepada PT Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak Nasional.

Kasus ini ditaksir merugikan PT Pertamina sebesar 31.492.851 USD dan 26.808.244 dolar Australia. Jumlah kerugian tersebut setara dengan Rp 568.066.000.000 sebagaimana perhitungan akuntan publik.

Kejagung telah menetapkan tersangka BK, mantan Manajer Merger & Acquisition (M & A) Direktorat Hulu PT Pertamina berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018. (ant/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *