Korupsi P2SEM, Dua Anggota DPRD Jatim diperiksa Kejati

oleh
dr Bagoes (tengah), mantan tenaga ahli DPRD Jatim yang menjadi saksi penting dalam kasus dugaan korupsi dana hibah P2SEM.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dari anggota DPRD Jatim 2004-2009 terkait dugaan korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) tahun 2008 terus berlanjut. Hari Ini, penyidik memanggil tiga orang yakni Islan Gatot Inbata (PDIP), Musyafa’ Noer (PPP) dan Ja’Far Sodiq (PKB).

Menariknya, Islan Gator dan Musyafak masih aktif menjabat sebagai Anggota DPRD Jatim. Saat ini Musyafa’ juga menjabat sebagai ketua PPP Jatim.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jatim, Richard Marpaung memebenarkan ada 3 orang yang diperiksa. “Hari ini ada 3 yang diepriksa. semuanya hadir,” katanya, Rabu (8/8).

Para saksi ini diberikan 18 hingga 20 pertanyaan seputar korupsi P2SEM. Sayangnya Richard enggan merincikan materi pemeriksaan terhadap ketiga saksi yang diperiksa penyidik Pidsus Kejati Jatim ini.

Ditanya mengenai siapa lagi saksi yang diperiksa dalam kasus ini, Richard enggan merincikan hal itu. “Untuk siapa saja saksi yang dipanggil besok (hari ini) belum tahu siapa pastinya. Pastinya akan saya kabari jika ada pemeriksaan ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, penyidik Pidsus Kejati Jatim terus mendalami skandal mega korupsi Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) tahun 2008. Sampai saat ini Kejaksaan dalam proses memeriksan 15 anggota DPRD Jatim periode 2004-2009 yang yang telah dilakuka pada Rabu (1/8), Kamis (2/8), Senin (6/8). Pemeriksaan juga akan dijadwalkan pada Kamis (9/8).

Pemeriksaan hasil pengembangan dari ‘nyanyian’ dokter Bagoes Soetjipto, penyalur dana hibah P2SEM yang digagas Pemprov Jatim di era Gubernur Imam Utomo pada 2008. dr Bagoes merupakan dokter spesialis jantung di RSU dr Soetomo Surabaya. Dia merupakan otak kasus mega korupsi dana hibah senilai Rp 277 miliar dari Pemprov Jawa Timur di era Gubernur Imam Utomo yang disalurkan melalui 100 anggota DPRD Jawa Timur.

Kemudian, oleh para anggota dewan, dana tersebut disalurkan ke kelompok masyarakat yang salah satu syarat pengajuannya adalah rekomendasi anggota dewan. Medio 2008, skandal mega korupsi ini terbongkar dan 25 orang menjadi terpidana dalam kasus ini. Bahkan, Ketua DPRD Jawa Timur periode 2004-2009, almarhum Fathorrasjid juga dijatuhi hukuman enam tahun penjara oleh PN Surabaya.

Aktor Belum Tersentuh

Sampai proses penyidikan sejauh ini, masih ada beberapa nama Anggota DPRD Jatim 2004-2009 yang tidak pernah dipanggil atau disebut oleh penyidik kejaksaan. Padahal nama-nama itu ada dalam daftar penerima dana hibah P2SEM yang diserahkan Fathorrasjid ke Kejati pada 2016 silam.

Asisten Pidana Khusus Kejati Jatim Didik Farkhan Alisyahdi beberapa waktu lalu menegaskan, anggota DPRD Jatim periode 2004-2009 yang diperiksa ini dari jalur dokter Bagoes.

“Dulu kan jalurnya Pujiarto (mantan Sekpri Fathorrasjid yang divonis 3 tahun 7 bulan penjara), Fathor Cs sudah. Sekarang jalur ini (dokter Bagoes),” tandas mantan Kepala Kejari Surabaya itu.

Sekadar membuka kembali memori. Usai menjalani hukuman pada 2013, Fathorrasjid bersama beberapa eks terpidana P2SEM membentuk Tim Ranjau 9 serta Presidium Aliansi Masyarakat Jawa Timur dan Korban Politik P2SEM (Jatim-AM).

Pada 2016, Jatim-AM menyerahkan data ke Kejati Jatim dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fathorrasjid dan kawan-kawannya menuding sejumlah pihak yang terlibat P2SEM belum diproses hukum.

Kala itu, Fathorrasjid mengungkap nilai korupsi yang dinikmati para pemotong dana hibah bervariasi antara Rp 2,5 hingga Rp 31 miliar. Beberapa nama anggota DPRD Jatim disebut Fathorrasjid turut menikmati pemotongan dana hibah P2SEM di antaranya R (Fraksi PAN) Rp 31 miliar, Ir AS (Fraksi PKS) Rp 18 miliar dan AJ (Fraksi PKB) Rp 17 miliar.

Lalu FAF (Fraksi PPP) Rp 12,25 miliar, AS (Fraksi Golkar) Rp 11,55 miliar, AS (Fraksi PKB) Rp 5,580 miliar, alm S (Fraksi Demokrat) Rp 9,5 miliar, RH (Fraksi Golkar) Rp 5,560 miliar, DM (Fraksi PKB) Rp 3,5 miliar dan RA (Fraksi Demokrat) Rp 2,5 miliar.

Ia kemudian membeber data pada 24 Oktober 2016 ke Kejati yang saat itu diketuai Maruli Hutagalung, karena menilai Maruli berani mengungkap serta memeriksa beberapa nama besar dan terkenal dalam kasus penjualan aset PT Panca Wira Usaha (PWU). Di antaranya Dahlan Iskan, Imam Utomo dan Wisnu Wardhana.

“Tapi jawaban apa yang kita dapat terhadap kasus P2SEM yang sudah jelas terlihat siapa saja yang menikmati, masuk angin,” katanya.

Hingga Fathorrasjid meninggal dunia, 15 November 2017, kelanjutan data dan para penikmat utama P2SEM belum tersentuh. Jelang pensiun, 1 Mei 2018, Maruli sempat menyebut 15 orang anggota DPRD Jatim periode 2004-2009 ikut kebagian P2SEM. Bahkan dua di antaranya masih aktif. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *