Korupsi Proyek Rp 179 milliar, Empat Mantan Pejabat PT Dok dan PAL Ditahan

oleh
Para tersangka kasus korupsi proyek tangki pendam di PT DOK dan Perkapalan Surabaya digiring ke rumah tahanan Kejati Jatim, Kamis (5/4).

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Empat tersangka kasus pengadaan proyek tangki pendam fiktif PT Dok dan Perkapalan Surabaya senilai Rp 179 milliar segera disidang. Hari ini, Kamis (5/4) berkas penyidikan tahap II dan empat tersangka sudah dilimpahkan penyidik Pidsus Kejagung ke jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak.

Keempat pejabat itu adalah mantan Dirut PT Dok dan Perkapalan, M Firmasnyah Arifin, bekas Direktur Administrasi dan Keuangan, Nana Suryana Tahir, mantan Direktur Produksi, I Wayan Yoga Djunaedy, eks Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha, Muhammad Yahya.

Kasi Intelijen Kejari Tanjung Perak, Lingga Nuarie mengatakan, tiga tersangka yakni Nana Suryana Tahir, I Wayan Yoga Djunaedy ditahan di Rutan Kelas I Surabaya Cabang Kejati Jatim. Sedangkan tersangka M Firmasnyah Arifin sudah ditahan dalam kasus sebelumnya, yakni kasus gratitikasi pembuatan kapal perang negara Filipina di PT PAL Surabaya.

”Dia telah divonis 4 Tahun Penjara,” terang Lingga kepada awak media di Kejari Tanjung Perak,Kamis (5/4). Dalam kasus pengadaan tangki pendam di Muara Sabak, Jambi ini lanjut Lingga, negara mengalami kerugian USD 3,3 juta atau setara Rp 33 milliar rupiah.

Kejaksaan menjerat keempat tersangka dengan pasal berlapis. Yaitu Pasal 2 ayat (1) juncto,  pasal 3 Juncto Pasal 18  Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 atas perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Juncto pasal 5 ayat 1 ke (1) KUHP jelas Lingga.

Dari pantauan di Kejari Tanjung Perak, Tersangka Nana Suryana Tahir, I Wayan Yoga Djunaedy dan Muhammad Yahya tiba di Kejari Tanjung Perak sekira pukul 08.10 WIB,  dengan pengamanan ketat petugas Kepolisian dari Bareskrim Polri dan Jaksa Penyidik dari Pidsus Kejagung RI.

Ketiganya merupakan tahanan penyidik Pidus Kejagung, mereka dibawa dari Kejagung RI dengan menggunakan pesawat Lion Air, penerbangan pukul 06.05 WIb dan tiba di Bandara Internasional Juanda Pukul 07.10 WIB.

Sementara tersangka M Firmasnyah Arifin baru tiba di Kejari Perak sekira pukul 09.15 WIB.  Mantan Dirut ini dijemput petugas Kejari Tanjung Perak di Lapas Porong. Dia merupakan terpidana 4 tahun penjara kasus gratifikasi pembuatan kapal perang yang dipesan Negara Filiphina. Nah saat proses pembuatan kontrak itulah,  Firmasyah berhasil ditangkap KPK melalui operasi tangkap tangan (OTT) karena menerima fee.

Perlu diketahui, Dugaan korupsi ini  bermula saat PT Dok dan Perkapalan Surabaya menandatangani kontrak dengan PT Berdikari Petro untuk melakukan pembangunan tangki pendam di Muara Sabak, Jambi dengan nilai proyek Rp 179.928.141.879.

Dalam pelaksanaannya, PT Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan subkontrak kepada AE Marine, Pte. Ltd di Singapura dan selanjutnya merekayasa progress fisik (bobot fiktif) pembangunan tangki pendam.

Kemudian PT Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan transfer sebesar USD3.9 juta kepada AE Marine. Pte, Ltd. Namun, dalam pelaksanaannya, justru tidak ada pekerjaan di lapangan atau di lokasi.

Dana tersebut justru digunakan untuk kekurangan pembayaran pembuatan dua kapal milik Pertamina kepada Zhang Hong, Pte. Ltd yang telah mempunyai anggaran tersendiri. Kontrak antara PT DPS dengan Zhang Hong. Pte, Ltd tidak sesuai dengan ketentuan pengadaan barang/jasa sehingga merugikan PT Dok dan Perkapalan Surabaya.

Atas pengadaan proyek fiktif tersebut, penyidik Pidsus Kejagung RI menemukan kerugian yang mencapai USD 3,3 juta atau senilai Rp 33 milliar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *