Korut-Korsel Saling Tembak Rudal

No comment 82 views

Rudal balistik Korut yang diluncurkan tadi pagi mendapat respon dari Korsel yang juga menembakkan rudal.

GLOBALINDO.CO, SEOUL – Ketegangan di Semenanjung Korea kian tinggi. Terbaru, Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) terlibat aksi saling tembak rudal balistik. Aksi penembakan rudal pertama kali dilakukan Korut dan disusul Korsel.

Korut menembakkan rudal ke arah timur melewati udara Hokkaido, Jepang utara dan jatuh di Samudera Pasifik, Jumat (15/9/2017). Penembakan rudal terbaru Korut dilakukan dari dekat Pyongyang dan terjadi setelah Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan memberikan sanksi kedelapan ke Korut atas program rudal balistik dan program senjata nuklirnya.

(Baca Juga: Ini 7 Kekuatan ‘Horor’ Korut)

Sanksi DK PBB itu sebagai balasan atas uji coba nuklir keenam pada awal September ini yang menurut Pyongyang adalah bom hidrogen yang dapat dipasang pada rudal.

Korut terus menggelorakan ketegangan di Semenanjung Korea meski telah berulangkali diperingati DK PBB dan negara-negara di Pasifik. Bahkan China dan Rusia yang selama ini selalu memveto resolusi DK PBB juga menyetujui penerapan sanksi kedelapan atas Korut menyusul uji coba nuklir awal bulan ini.

Korut semakin pesat dalam kemajuan teknologi senjata di di bawah pemimpin muda Kim Jong Un. Peluncuran rudal terakhirnya, rudal jarak menengah Hwasong-12, dilakukan minggu yang lalu. Rudal terbang melewati udara Jepang dan jatuh di Samudera Pasifik hingga memicu kepanikan warga di Jepang utara, 3 September 2017.

Rudal Korut yang ditembakkan pada Jumat (15/9/2017) sekitar pukul 07.06 waktu setempat kembali terbang di udara Hokkaido, Jepang utara dan jatuh di Samudera Pasifik. Jepang pun mengeluarkan sistem peringatan J-Alert dengan laporan mengatakan, rudal tersebut jatuh di jarak sekitar 2.000 kilometer di timur Hokkaido.

“Jepang tidak akan pernah bisa mentoleransi tindakan provokatif yang berulang kali dilakukan oleh Korut,” kata juru bicara pemerintah Jepang di Tokyo.

“Kami memprotes keras ke Korut, mengatakan kepada mereka kemarahan yang sangat dari rakyat Jepang dan mengecam dengan kata-kata paling keras.”

Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan, rudal itu diperkirakan terbang sejauh 3.700 kilometer dan mencapai ketinggian maksimum 770 kilometer.

Pencapaian itu jauh lebih tinggi dan lebih jauh dari rudal yang diuji coba sebelumnya.

Korsel Membalas
Aksi Korut ini langsung dibalas oleh militer Korsel dengan menembakkan dua rudal balistiknya. Korsel mengecam keras peluncuran rudal Korut yang melintasi wilayah Jepang bagian utara ini.

Seperti dilansir kantor berita Korsel, Yonhap News Agency, Jumat (15/9/2017), militer Korsel telah menembakkan dua rudal jenis Hyunmoo-2 dari sebuah lokasi peluncuran rudal di sebelah timur negara tersebut, dekat perbatasan dengan Korut.

Dua rudal Hyunmoo-2 milik Korsel itu ditembakkan sekitar 6 menit setelah Korut meluncurkan rudalnya pada Jumat (15/9) pagi, sekitar pukul 06.57 waktu setempat. Ditembakkannya dua rudal Hyunmoo-2 ini merupakan bagian dari latihan militer.

Dituturkan salah satu pejabat Kantor Staf Gabungan Korsel kepada wartawan, salah satu rudal secara akurat berhasil mengenai target simulasi di Laut Timur, yang berjarak 250 kilometer dari lokasi peluncuran.

Disebutkan pejabat Korsel itu, jarak tersebut merupakan jarak yang sama antara area latihan militer Korsel dengan pangkalan udara Sunan di Pyongyang, Korut. Pangkalan udara Sunan merupakan lokasi Korut menembakkan rudalnya pagi ini.

Satu rudal lainnya dilaporkan jatuh ke laut pada tahap awal setelah diluncurkan. Otoritas terkait sedang menyelidiki hal ini lebih lanjut.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Korsel menyampaikan kecaman keras untuk peluncuran rudal Korut yang terbaru ini. Korsel mendesak Korut untuk segera menghentikan aksi provokasi sembrono dan kembali ke meja perundingan.

“Kami mengecam keras satu lagi peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara, usai uji coba rudal setingkat ICBM (rudal balistik antarbenua) beberapa waktu terakhir, karena itu sebuah pelanggaran jelas terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB dan juga memberikan tantangan besar bagi perdamaian dan stabilitas Semenanjung Korea dan komunitas global,” demikian pernyataan resmi pemerintah Korsel.

“Korea Utara seharusnya menyadari bahwa menghentikan pengembangan rudal dan nuklir menjadi cara yang tulus untuk menjamin keamanan dan pembangunan ekonomi. Korea Utara didesak untuk menghentikan segera provokasi sembrono dan kembali ke meja perundingan,” imbuh pernyataan itu.(kcm/dtc/ziz)