KPK Gandeng FBI Cari Bukti Korupsi e-KTP yang Disimpan Johannes Marliem

oleh
Johannes Marliem, saksi kunci korupsi proyek e-KTP senilai Rp 2,3 triliun yang meninggal dunia pada Agustus 2017 lalu di rumahnya di Los Angeles, AS.
Simpan Bukti: Johannes Marliem, saksi kunci korupsi proyek e-KTP senilai Rp 2,3 triliun yang meninggal dunia pada Agustus 2017 lalu di rumahnya di Los Angeles, AS.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Sekitar 200an bukti yang kabarnya telah dikantongi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menjerat Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus korupsi proyek e-KTP agaknya belum cukup. Lembaga antirasuah bekerjasama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) atau Biro Investigasi Federal Amerika Serikat  untuk mencari bukti kuat lain yang diduga disimpan Johannes Marliem yang telah meninggal Agustus 2017 lalu di negeri Paman Sam.

“Dengan Amerika Serikat, kami lakukan kerja sama dengan FBI terkait dengan pengumpulan dan pencarian bukti karena ada bukti-bukti yang juga berada di AS, ada indikasi aliran dana kepada sejumlah pejabat di Indonesia,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Kamis (5/10).

Febri mengungkapkan, sebagian bukti yang disimpan Johannes memang telah dikantongi KPK sebelum saksi kunci itu meninggal di rumahnya di Los Angeles, AS pada Agustus lalu. Namun KPK tidak bisa menjelaskan detil bukti-bukti tersebut.

“Tentu saja kami tidak bisa menyampaikan secara rinci. Namun yang pasti ada bukti-bukti yang menunjukkan indikasi aliran dana pada sejumlah pejabat di Indonesia yang sedang diproses juga di peradilan di Amerika Serikat,” kata Febri.

Menurut Febri, apa yang sudah terungkap pada persidangan di Amerika Serikat itu tentu KPK akan mendalami lebih lanjut.

“Kami akan kembali berkoordinasi dengan FBI terkait dengan bukti-bukti yang sudah didapatkan di sana karena di sana ada tuntutan hukum terkait dengan sejumlah kekayaan yang diduga berasal dari kejahatan atau yang diduga ada kejahatan lintas negara di sana tentu kami akan koordinasi lebih lanjut,” tuturnya.

Febri juga menyatakan bahwa hal tersebut semakin menguatkan bahwa bukti-bukti yang ada terkait dengan indikasi korupsi proyeek berbiaya Rp 5,9 triliun ini sangat kuat.

“Meskipun bukti-bukti yang kami ajukan tersebut kemudian misalnya di persidangan praperadilan kemarin secara formil tidak dipandang sebagai alat bukti dalam penyidikan terhadap Setya Novanto tetapi putusan praperadilan itu mau tidak mau wajib kami hormati dan kami terima,” ujarnya.

Selanjutnya, KPK akan mendalami lebih lanjut aspek formalitas ataupun materil dari kasus e-KTP itu dan pihaknya juga akan juga memproses pihak-pihak lain.

“Bukti dan kerja sama dari FBI itu menjadi salah satu faktor yang semakin memperkuat penanganan kasus KTP-e yang kami lakukan,” ucap Febri.

Pengumpulan bukti diduga terkait Johannes Marliem yang mempunyai rekaman proses pembahasan proyek e-KTP, termasuk dengan Ketua DPR RI Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar yang totalnya ratusan gigabyte (GB). (bin/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *