KPK Kembali Periksa Bos Bulog

oleh
Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (12/10).

 

Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (12/10).
Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (12/10).

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi kembali memanggil Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti, Rabu (12/10). Kali ini, Djarot diperiksa untuk tersangka Memi, istri Xaveriandy Sutanto, bos CV Rimbun Padi Berjaya yang juga menjadi tersangka kasus dugaan suap kuota distribusi gula impor di Sumatera Barat.

Djarot yang mengenakan  batik berwarna hitam tak mau menjawab pertanyaan wartawan di Gedung KPK.

“Yang bersangkutan (Djarot Kusumayakti) diperiksa sebagai saksi untuk tersangka M (Memi),” kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ini merupakan pemeriksaan kedua Djarot dalam kasus ini. Sebelumnya, KPK sudah memeriksa Djarot pada Kamis 29 September 2016. Pada saat itu ia diperiksa sebagai saksi atas tersangka Irman Gusman.

Pada 17 September 2016 lalu, mantan Ketua DPD Irman Gusman terjaring operasi tangkap tangan KPK. Ia diduga menerima suap Rp 100 juta dari Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi, terkait rekomendasi kuota distribusi gula impor di Sumatera Barat.

Kasus suap impor gula menyeruak dari aroma kongkalikong Xaveriandy dengan Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumatera Barat Fahrizal dalam kasus penjualan gula oleh CV Rimbun Padi Berjaya tanpa label SNI di Sumbar yang tengah bergulir di Pengadilan Negeri Padang. KPK mencium adanya praktik suap dalam penanganan perkara itu di PN Padang.

Dalam proses pengadilan, Xaveriandy yang juga mantan Direktur CV Rimbun Padi Berjaya diduga membayar Jaksa Fahrizal untuk membantunya dalam persidangan. Fahrizal diduga menerima duit Rp 365 juta dari Xaveriandy.

Di tengah penyelidikan perkara ini, KPK mengetahui ada pemberian uang untuk Irman, tapi dalam kasus lain. Irman diduga menerima suap Rp100 juta karena menggunakan jabatannya untuk memengaruhi pejabat tertentu terkait pengurusan kuota gula impor yang diberikan Bulog pada CV Semesta Berjaya tahun 2016 di Sumbar.

Sosok Dirut Bulog

Sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama Bulog Djarot menduduki jabatan Direktur Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sejak tahun 2010 sedangkan Lenny sebelum diangkat sebagai direktur Utama bulog adalah Direktur Pengendalian Risiko Kredit.

Djarot cukup lama berkiprah di BRI, sebelum menduduki kursi direktur, dirinya menjabat sebagai Kepala Divisi Analisis Kredit BRI. Ia menduduki jabatan tersebut pada 2005 hingga 2010. Sebelumnya, Djarot adalah Wakil Pimpinan Kantor Wilayah BRI Jakarta.

Pria berkacamata ini menempuh pendidikan tinggi di Universitas Islam Yogyakarta dan kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Airlangga, Surabaya.

Djarot mengaku sudah menerima kabar penunjukan dirinya sebagai Direktur Utama Perum Bulog sekitar dua minggu lalu. Namun kepastian bahwa ia memang menduduki posisi tersebut baru keluar pada Senin (8/6/) ini melalui Surat keputusan Menteri BUMN Nomor SK-87/MBU/06/2015 tanggal 8 Juni 2015.

“Dapat kabar baru sekitar satu minggu atau dua minggu ini,” kata Djarot, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (8/6).

Menurut Djarot, tidak ada upacara pengangkatan dirinya sebagai orang nomor satu di Bulog. Di kantor BUMN, dirinya hanya menerima Surat Keputusan dari pihak Kementerian BUMN. Hal tersebut sengaja dilakukan.

“Tidak ada pelantikan, hanya terima Surat Keputusan saja, kami memang kurangi acara yang sifatnya seremonial,” tutupnya. (gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.