La Nyalla Tak Bisa Berkelit Diminta Prabowo Rp 40 Miliar, Ini Bukti Rekamannya

oleh
La Nyalla Matalitti dan Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
La Nyalla Matalitti dan Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

 

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Ketua Kamar Dagang dan Industri Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti tak bisa mengelak pernyataannya sendiri pernah dimintai duit mahar Rp 40 miliar oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Rekeman video pernyataannya di depan awak media menjadi bukti kuat yang menepis bantahan La Nyalla lewat surat yang disampaikan di acara talkshow, tvOne, Selasa (16/10) lalu.

Pernyataannya mengenai uang yang diminta oleh Prabowo senilai Rp 40 miliar untuk maju di Pilkada Jatim 2018 ia sampaikan secara terbuka ketika diwawancara oleh awak media. Dalam pernyataannya tersebut, ia mengaku diminta uang oleh Prabowo, dan bahkan dimaki-maki olehnya.

Letak perbedaan yang disorot La Nyalla dari pernyataannya dalam wawancara dengan isi surat adalah ia dengan tegas membantah bahwa ia dipalak oleh Prabowo Subianto. Padahal dalam pernyataan kepada awak media, La Nyalla mengaku uang 40 miliar sangatlah tidak wajar, lantaran seharusnya uang saksi hanyalah 28 miliar. Ia pun merasa diperas akan hal tersebut.

“Saya sempat dipanggil di ruang kerjanya, Pak Prabowo kemudian menanyakan saya siap uang gak, saya bilang nanti saja setelah rekom, saya bilang saya ada pengusaha-pengusaha muslim. Dan saya juga sudah keluar uang 5,9 miliar. Pak Prabowo kaget, dan maki-maki saya. Nah, Pak Prabowo ini siapa kok saya dimaki-maki,” kata La Nyalla dalam wawancara dengan awak media, Kamis (11/1) lalu.

Ini Rekaman video wawancara La Nyalla Matalitti dengan wartawan:

Sementara dalam suratnya La Nyalla mengaku telah terlebih dahulu dimintai uang sebesar 5,9 miliar oleh oknum Gerindra. Ia mengatakan hanya dimintai uang saksi, bukan dipalak. (Baca: La Nyalla Kini Sangkal Mahar Politik Gerindra).

“Ngomongnya soal duit-duit, Saya dalam hati, nih orang kok sakit apa? Kok ngomongin duit Pilpres 2014, emangnya saya ikut campur sama duit Pilpres 2014,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga telah mengeluarkan uang 1,1 miliar untuk beberapa kali pengeluaran. Sehingga total uang yang sudah ia siapkan adalah 7 miliar rupiah sebelum rekom diberikan.

Isi surat La Nyalla juga menyatakan bahwa ia di telepon oleh Ketua DPD Gerindra Jatim. Dalam telepon tersebut, La Nyalla mengaku diminta menyiapkan uang 170 atau 150 miliar.

Sementara itu, dalam pernyataannya, ia mengaku diminta menyiapkan uang 200 miliar oleh Prabowo.

“Prabowo sempat ngomong, ‘siapkan kamu sanggup 200 miliar?’ 500 saya siapkan, kata saya karena di belakang saya banyak didukung pengusaha-pengusaha muslim,’ ucap La Nyalla.

Terdapat beberapa poin yang sama dari perbandingan pernyataan La Nyalla yang terlihat dalam rekaman video wawancara dengan awak media dengan isi suratnya di acara televisi. Misalnya, baik saat wawancara maupun dalam isi suratnya, La Nyalla mengatakan diminta menyiapkan uang saksi Rp 40 miliar sebelum tanggal 20 Desember.

Rekaman video lain wawancara La Nyalla Matalitti dengan wartawan:

Kemudian, isi surat dan pernyataan La Nyalla juga sama-sama menegaskan bahwa ia menolak untuk menyerahkan uang tersebut. Pada suratnya, ia menyatakan setelah itu ia diberi surat oleh Prabowo, yang isinya ia harus mencari sendiri partai koalisi dalam waktu 10 hari.

Sementara dalam suratnya ia mengaku tak lagi melanjutkan kerjasama dengan Gerindra. “Belum apa-apa sudah minta duit, ya kabur kita, ” katanya.

Pada akhir pernyataannya, La Nyalla mengungkapkan bahwa ia tidak akan mendukung lagi partai Gerindra. Sementara di suratnya ia mengaku tidak akan terlibat dalam dukung mendukung pasangan di Pilgub Jatim. (tib/adi)

Ini Surat La Nyalla Matalitti yang disampaikan kepada Karni Ilyas dan dibacakan di acara talkshow di tvOne, Selasa (16/1) lalu.

Yth. Bung Karni Ilyas,
 
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
 
Saya mohon maaf tidak bisa hadir di acara ILC, karena bersamaan dengan agenda yang telah terlebih dahulu harus saya hadiri, maka saya mohon agar kiranya dapat dibacakan pernyataan tertulis saya.
 
Pernyataan tersebut dibawa oleh kolega saya, Saudara Jamal Aziz, yang mengetahui persis perjalanan ikhtiar politik saya untuk mencalonkan diri di Pilgub Jawa Timur.
 
Terima kasih bung,
 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti
 
———————–
Pernyataan Tertulis La Nyalla Mahmud Mattalitti
Untuk Dibacakan di Acara ILC di TVOne
Selasa, 16 Januari 2018
 
I. KLARIFIKASI
a) Saya tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa Prabowo memalak saya. Kalimat itu adalah judul di media.
 
b) Tidak pernah pula saya mengatakan bahwa Prabowo meminta uang mahar.
 
II. FAKTA
a) Ada oknum pengurus partai, yang menemui saya, menjanjikan mengurus Rekomendasi.
 
b) Oknum tersebut meminta sejumlah fasilitas pribadi kepada saya.
 
c) Oknum tersebut meminta sejumlah dana untuk beberapa keperluan, yang tidak perlu saya rinci di sini, karena hanya membuka aib orang. Total dana yang saya keluarkan kepada oknum tersebut sekitar Rp. 7 miliar. Masing-masing Rp. 5,9 miliar dan beberapa kali pengeluaran sekitar Rp. 1,1 miliar.  
 
d) Ketua DPD Gerindra Jatim dalam pembicaraan melalui telepon dengan Tim saya, menyampaikan agar disiapkan dana Rp. 170 atau Rp. 150 miliar. Akan dibawa ke Prabowo dan akan diurus rekomendasi calon gubernur. Sekaligus akan diurus partai koalisi lainnya.
 
e) Saya ketika dipanggil Prabowo, diminta untuk menyiapkan dan menyerahkan dana saksi Rp. 40 miliar di kisaran tanggal 20 Desember 2017. Saya tidak setuju. Karena saya hanya bersedia menyiapkan dan menyerahkan dana saksi dan dana pemenangan setelah resmi terdaftar sebagai Calon Gubernur di KPU. Karena itu saya sudah membuka Cek Rp. 70 miliar, yang akan bisa cair setelah saya resmi menjadi calon gubernur.
 
f) Akhirnya saya diberi surat tugas oleh Prabowo untuk mencari sendiri Partai Koalisi, dan diberi waktu 10 hari.
 
g) Semua fakta tersebut tercatat, ada saksi dan sebagian ada bukti otentik, baik berupa kuitansi/tanda terima, maupun rekaman chatting dan telepon.
 
III. HARAPAN
a) Saya berharap kepada semua stakeholder politik dan akademisi untuk mengambil pelajaran berharga dari fenomena politik rekomendasi partai di Indonesia. Untuk kemudian menyusun rumusan perbaikan sistem tata kelola dan model.
 
b) Saya berharap MPR/DPR melakukan evaluasi kebijakan dan evaluasi peraturan perundangan terkait dengan partai politik dan kontestasi pemilihan kepala daerah.    
c) Karena politik biaya tinggi cenderung menghasilkan perilaku koruptif, bagi pemenang dan kerugian material dan moril bagi yang kalah.
d) Terhadap internal Partai Gerindra, saya berharap Badan Pengawas dan Etik Partai melakukan tindakan terhadap oknum-oknum partai dan orang dekat Ketua Umum yang terbukti melakukan tindakan yang merugikan partai.
 
IV. SIKAP
a) Secara pribadi, Saya tidak akan terlibat dukung mendukung pasangan calon di Pilgub Jatim. Saya memilih puasa politik, dengan tetap melakukan konsolidasi dengan para pendukung dan relawan saya untuk menyongsong Pileg dan Pilpres 2019.
Catatan:
———–
Tentang pembukaan posko pengaduan korban gagal rekom adalah inisiatif para aktivis yang mendukung sikap saya untuk membuka permasalahan ini ke publik. Bukan inisiatif pribadi saya, karena saya dalam posisi menyetujui saja usulan dan gagasan yang diinisiasi para aktivis tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *