Laba Pertamina Anjlok USD 1,45 Miliar

No comment 273 views
Jajaran Direksi PT Pertamina (Persero) membeberkan pendapatan dan laba bersih perusahaan minyak milik negara sepanjang tahun 2015.

Jajaran Direksi PT Pertamina (Persero) membeberkan pendapatan dan laba bersih perusahaan minyak milik negara sepanjang tahun 2015.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Perusahaan minyak negara, PT Pertamina, hanya membukukan laba bersih senilai USD 1,42 miliar sepanjang tahun 2015 lalu. Capaian laba tersebut anjlok sekitar 1,82 persen atau setara USD 1,45 miliar dibanding tahun 2014 lalu karena fluktuasi  industri minyak dan gas yang tidak stabil.

Sedangkan untuk laba operasi, PT Pertamina mencatatkan laba sebesar USD 3,92 miliar atau turun 11,65 persen dibandingkan realisasi laba operasi pada tahun 2014 yang mencapai USD 4,44 miliar.

Untuk earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) margin perseroan, tercatat sebesar 12,28 persen atau naik 48,82 persen dari realisasi pada tahun 2014 lalu sebesar 8,2 persen.

Direktur Utama PT Pertamina Dwi Sotjipto mengungkapkan, harga minyak mentah yang turun tajam dari kisaran angka USD 106 per barel menjadi sekitar USD 42 per barel sangat memengaruhi kinerja seluruh perusahaan migas di dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya melakukan berbagai langkah efisiensi, agar tetap eksis.

Namun, perseroan justru meningkatkan kinerja operasi dari unit-unit bisnis dan anak perusahaan untuk terus melakukan berbagai efisiensi di segala lni.

“Pertamina terlihat seperti anomali, di mana perusahaan-perusahaan di dera pelambatan usaha hingga double digit. Pertamina hanya mengalami sedikit penurunan,” ujar Dwi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (31/5) sore.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan PT Pertamina Arif Budiman mengakui, penurunan laba bersih perusahaan memang tak lepas dari porsi pendapatan perseroan yang memang tergerus akibat fluktuasi harga minyak dunia.

Sepanjang tahun 2015 lalu, pendapatan Badan Usaha Milik Negara sektor energi ini mengalami penurunan menjadi USD 41,76 miliar atau turun 40,34 persen dibandingkan realisasi pendapatan pada tahun 2014 sebesar USD 70 miliar.

“Penurunan ini memang tak lepas dari anjloknya harga minyak dunia yang mencapai kisaran 60 persen,” kata Arif. (vin/gbi)