Lagi, Satu Korban Miras Oplosan di Surabaya Meregang Nyawa

oleh
Barang bukti miras oplosan yang berhasil diamankan.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Korban minuman keras (Miras) oplosan di Bulak Banteng, Surabaya terus bertambah. Kali ini Toni (38 tahun) meregang nyawa sesaat setelah dibawa ke RSUD dr Soewandhie Surabaya, Selasa (24/4/2018).

Toni masuk ke RSUD Soewandhie bersama korban lainya bernama Rizal (16) warga Jl Gedong Surabaya. Keduanya menjadi korban miras oplosan namun dengan lokasi berbeda.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Reni Astuti yang sempat mendatangi korban di rumah sakit mengatakan, kondisi keduanya cukup mengenaskan.

“Sempat bertemu dengan keduanya, sangat mengenaskan. Terlebih dari keluarga tidak mampu, ” katanya.

Lantaran dari keluarga miskin, lanjut Reni, BPJS tidak bisa mengkover biaya kesehatan karena pasien merupakan korban penyalahgunaan miras.

Namun, mengingat kondisi yang cukup kritis akhirnya korban mendapat surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari Pemkot Surabaya agar pasien segera ditangani. Namun, siang hari kemudian salah satu korban meninggal dunia.

Di sisi lain, Mbak Reni,-demikian politisi PKS ini biasa disapa- mengatakan, maraknya peredaran miras terlebih banyak merenggut korban nyawa, perlu mendapat perhatian serius Pemkot Surabaya.

“Jangan-jangan ini yang baru terekspose sementara sebelum sebelumnya juga banyak, untuk itu harus benar benar dilakukan pengawasan di segala lini,” tegasnya.

Dia menambahkan, Perda soal larangan minuman beralkohol yang sudah masuk ke DPRD Surabaya harus segera diundangkan. Hal ini perlu, katanya, agar operasi penertiban miras bisa berjalan efektif.

Selain itu, lanjut Mbak Reni, Pemkot harus melakukan pemetaan terhadap kawasan-kawasan yang rawan peredaran miras. “Tujuannya agar operasi penertiban bisa lebih intensif, ” tegas dia.

Hal lain yang perlu diperhatikan Pemkot adalah menganalisis apakah persoalan miras erat kaitannya dengan kondisi sosial masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun pola kehidupan sosial yang ada di masyarakat.

“Kalau iya, maka harus segera dicari solusinya, agar tidak ada lagi korban baru,” pungkas Reni. (bmb/gbi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *