Massa Rusak Kantor Kemendagri, 15 Orang Terluka, Belasan Pelaku Ditangkap

Pecahan kaca di Kantor Kemendagri yang masih berserakan disebabkan aksi anarkhis sekelompok massa yang memprotes hasil Pilkada Tolikara.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Sekelompok massa pendukung salah satu calon di Pilkada Tolikara merusak Kantor Kementerian Dalam Negeri di Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (11/10). Akibat aksi ini, 15 orang terluka dan belasan pelaku ditangkap polisi.

“Ada 15 korban ya. Lima orang dirawat di RSPAD, 10 dirawat di poliklinik di sana,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono, Rabu (11/10).

Aro mengatakan, 15 orang yang diamankan terkait aksi perusakan ini masih dalam pemeriksaan lebih lanjut.

“Ada 15 orang yang kita amankan di Polda Metro Jaya. Jadi nanti kami akan memeriksa berkaitan dengan kasus tersebut ya.

Menurut Argo, dari 15 orang yang diamankan itu, ada yang memecahkan kaca kantor Kemendagri, membanting pot bunga dan menganiaya pegawai.

“Kita tanyakan perannya seperti apa, apakah dia merusak pot atau menganiaya pegawai Kemdagri, sedang kita lakukan investigasi dan pendalaman. Kita akan melakukan secara profesional ya, kita juga memperlakukannya dengan baik,” tutur Argo.

Ia menyampaikan, para pelaku bukan melakukan aksi unjuk rasa, namun mau bertemu dengan pihak Kemendagri terkait dengan perkara Pilkada Tolikara.

“Ada 30-an (orang). 15 sudah diamankan di sini. Kita dalami perannya seperti apa,” katanya.

Ia mengungkapkan, para pelaku terancam dikenakan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan terhadap orang dan barang.

“15 (orang) itu (masih berstatus) saksi. Kita amankan, kita periksa apa melakukan pelanggaran atau tidak. Sementara tiba-tiba ya, bukan diprovokasi. Barang bukti ada pot pecah, kaca pecah, mobil kaca pecah,” tandasnya.

Sementara Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengungkapkan, dirinya sempat menerima sekelompok warga Tolikara, Papua itu di pintu depan Kantornya, Selasa kemarin. Kepada massa, Tjahjo menyarankan pihak tersebut untuk berdialog dengan Direktur Jenderal (dirjen) Otonomi Daerah (Otda) Kemdagri, Sumarsono dan Dirjen Politik dan Pemerintahan (Polpum), Soedarmo.

“Semalam saya terima mereka di pintu ke luar kantor, pendemo yang sudah berhari-hari di Kemdagri. Saya sampaikan kalau mau dialog, tanya masalah pilkada (pemilihan kepala daerah) besok (hari ini) ke Dirjen Polpum dan Otda. Bicara baik-baik,” kata Tjahjo menanggapi penyerangan Kantor Kemdagri oleh massa dari Tolikara, Rabu (11/10) petang.

Menurutnya, kericuhan di Kantor Kemdagri disebabkan sengketa Pilkada Tolikara. Massa penyerang merupakan pendukung calon bupati dan calon wakil bupati Tolikara, John Tabo dan Barnabas Weya.

Gugatan sengketa pilkada yang diajukan John dan Barnabas, ditolak Mahkamah Konstitusi (MK). Dengan begitu, bupati dan wakil bupati terpilih dipegang paslon Usman G Wanimbo dan Dinus Wanimbo.

“Putusan MK final dan mengikat. Semalam saya sudah salaman sama mereka, dipimpin seorang Mama yang sudah pernah ketemu saya di kantor. Sudah saya jelaskan bahwa putusan MK final dan mengikat,” ujarnya.

Mantan Sekjen PDIP ini menambahkan, simpatisan John dan Barnabas tidak mau tahu dengan putusan MK serta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tolikara, karena dinilai tidak adil. “Mereka minta Mendagri batalkan putusan MK dengan alasan curang. Ini tidak mungkin,” imbuhnya.

Tjahjo menjelaskan, pemenang pilkada diharapkan untuk bersabar menunggu pelantikan. “Berdamai dulu. Diajak dialog. Disanggupi,” jelasnya. (sup/ady)