Menengok Nasib Gadis-Gadis Rohingya, ‘Dipaksa’ Menikah Usia 15 Tahun Demi Hemat Jatah Makanan

Gadis dari kelompok etnis Rohingya di Bangladesh yang kebanyakan menikah di usia belia.

 

GLOBALINDO.CO – Nasib para gadis muslim Rohingnya di Bagladesh tak bisa lepas dari kehidupan memprihatinkan kelompoknya. Mereka ‘dipaksa’ menikah di usia belia -15 tahun ke bawah- dan harus keluar dari rumah untuk menghemat jatah makanan yang terbatas untuk keluarga Rohingya.

Dikutip dari The Guardian, Program Pangan Dunia (WFP) PBB melaporkan bahwa semakin banyak keluarga pengungsi Rohingya yang menikahkan putri mereka di usia belia.

“Saya belum berusia dewasa ketika saya menikah,” cerita seorang perempuan Rohingya bernama Anwara, yang menikah di usia 14 tahun.

Tujuannya untuk mengurangi jumlah anggota keluarga yang harus diberi makan karena terbatasnya pasokan makanan untuk mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Sehingga, keluarga tersebut dapat menyimpan jatah makanan lebih banyak dan putri mereka dapat mencari jatah makanannya sendiri dengan keluarga barunya.

Namun, yang disayangkan, gadis-gadis yang dinikahkan masih berusia sangat muda, bahkan sampai 12 tahun. “Waktu itu, saya belum paham soal apa yang terjadi, sebab saya lemah dan kelaparan. Saya bahkan tidak memberitahu siapapun ketika saya hamil,” kata Anwara.

Ia menceriatakan, gadis-gadis seumuran dia tentu belum memahami kehidupan dan masa depan, apalagi berkeluarga. “Seandainya saya bisa menghabiskan waktu lebih banyak tanpa harus mengurus anak dan suami. Pasti hidup akan lebih indah,” tuturnya.

Para bocah perempuan Rohingya di usia remaja awal dinikahkan untuk menghemat jatah makanan keluarga.

Gadis Rohingya lain, Marium (14), mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk setuju menikah demi membebaskan ibunya dari tanggung jawab untuk menghidupinya.

“Ayah saya sudah tidak ada dan saya menjadi beban berat bagi ibu saya, jadi lebih baik saya menikah saja,” kata Marium.

“Jika ibu saya mampu untuk memberi saya makan, tentu saya akan lebih senang untuk melajang saja (sampai cukup umur),” ucapnya lagi.

Lebih dari 700 ribu warga Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak konflik pecah pada Oktober 2016. Sejak konflik kembali pecah pada Agustus tahun ini, sekitar 600 ribu warga Rohingya lainnya meninggalkan Myanmar.

Lembaga-lembaga kemanusiaan di Bangladesh mengatakan remaja-remaja putri Rohingya kerap menjadi target pelecehan seksual di Rakhine, Myanmar. Namun, di tempat-tempat pengungsian di daerah perbatasan Myanmar-Bangladesh, Cox’s Bazar, kekerasan seksual dalam bentuk pernikahan dini juga menargetkan kelompok yang sama. (tbn/mun)

Tags: