Menhub Anggap Mantan Dirjen Hubla Khilaf Terima Suap

oleh
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat bersaksi di sidang mantan bawahannya, eks Dirjen Hubla Antonius Tonny Budiono dalam kasus suap terkait proyek pengerukan sejumlah pelabuhan, Rabu (28/3).

GLOBALINDO.CO, JAKARTA РMenteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyebut mantan mantan Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) Antonius Tonny Budiono itu telah khilaf menerima suap terkait proyek di lingkungan Kemhub. Pendapat itu merujuk pada kinerja Tonny yang menurut Budi bekerja dengan baik selama menduduki jabatan strategisnya.

“Kalau saya lihat ada khilaf dari terdakwa, karena sebelumnya, melakukan kegiatan dengan baik,” kata Budi saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (28/3). Karena itu, Budi prihatin atas suap yang diduga diterima.

Budi Karya menyimpulkan Tonny telah khilaf setelah berdiskusi dengan sejumlah pihak. Menurut Budi, berdasarkan hasil analisisnya, suap dan gratifikasi yang diterima Tonny merupakan ucapan terima kasih dari PT Adhiguna Keruktama yang menggarap sejumlah proyek.

Hal ini lantaran, uang suap itu diterima Tonny setelah PT Adhiguna Keruktama merampungkan pengerjaan pengerukan di sejumlah pelabuhan. “Dari analisis yang dibahas di kantor. Jadi ada balas jasa yang dilakukan kepada beliau dari pihak ketiga. Dari laporan seperti itu,” ujarnya.

Budi mengaku tak menyangka Tonny ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran terlibat praktik suap. Hal ini lantaran Budi mengaku mengenal Tonny sebagai pegawai yang tegas dan berkompeten. Budi pun pernah bersama-sama dengan Tonny dalam memberantas pungli di kawasan pelabuhan. “Terdakwa saya nilai berkompeten dan tegas dalam melakukan roda organisasi,” kata Budi.

Untuk itu, Budi Karya mengaku prihatin dengan suap yang terjadi di lingkungan Kemhub ini. Budi mengklaim sejak peristiwa penyuapan yang melibatkan Tonny, Kementerian Perhubungan yang dipimpinnya melakukan sejumlah perbaikan untuk mencegah terulangnya peristiwa ini.

“Saya jujur saya prihatin atas kejadian ini. Di masa saya, saya akan akan berusaha lebih baik,” ujarnya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Tonny menerima suap Rp 2,3 miliar dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan. Suap itu diberikan terkait pengerjaan pengerukan di sejumlah pelabuhan, yakni Pulau Pisau Kalimantan Tengah, Pelabuhan Samarinda, pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pengerukan di Bontang Kalimantan Timur, dan pengerukan di Lontar Banten.

Suap dari Adiputra diterima Tonny melalui kartu ATM atas nama Yongkie dan Joko Prabowo. Selain menerima suap, Tonny juga didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah pihak berupa uang tunai Rp 5,8 miliar, USD 479.700, 4.200 euro, 15.540 pound sterling, 700.249 dolar Singapura, dan 11.212 ringgit Malaysia.

Selain itu, uang di rekening Bank Bukopin atas nama Oscar Budiono Rp 1,066 miliar dan Rp 1,067 miliar dan uang di rekening BRI atas nama Wasito dan BCA Rp 300 juta. Tak hanya itu, Tonny juga menerima gratifikasi perhiasan berupa cincin yang harganya ditaksir mencapai Rp 175 juta serta sejumlah barang yakni jam tangan, pena, dompet, hingga gantungan kunci. (bs/nad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *