Menristek Mimpi Sulap Batam Jadi Sillicon Valley Indonesia

Pulau Batam yang kini menjadi kawasan industri dan pariwisata di perbatasan Indonesia akan disulap menjadi Silicon Valley seperti di Amerika Serikat.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Pemerintah bermimpi Indonesia punya kawasan inovatif terintegrasi berbasis IT seperti Silicon Valley di Amerika Serikat.  Adalah Pulau Batam yang akan disulap menjadi Silicon Valley Indonesia karena letak geografisnya yang sangat strategis, dekat dengan Singapura dan Malaysia.

“Batam merupakan kota yang sangat strategis yang dekat dengan Singapura dan Malaysia. Nanti, Nongsa akan dijadikan kawasan yang penuh inovasi seperti ‘Silicon Valley’ di Amerika Serikat,” tutur Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir usai kunjungan di Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, Senin (28/8).

Silicon Valley merupakan julukan bagi daerah selatan di San Francisco Bay Area, California Amerika Serikat. Julukan itu disematkan karena di kawasan itulah berdiri banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer  dan teknologi informasi.

Boleh dikatakan, Silicon Valley merupakan pusat teknologi dunia. Daerah-daerahnya meliputi  San Jose, Santa Clara, Sunnyvale, Palo Alto, dan beberapa wilayah lain.

Nasir menjelaskan, Batam telah memiliki Nongsa Digital Park (NDP) dan akan dijadikan kawasan pengembangan perusahaan pemula di Tanah Air. Saat ini, di kawasan itu terdapat studio animasi dan film terbesar di Asia Tenggara yakni Infinite Studio.

Studio itu telah berhasil mengerjakan film animasi yang tayang di berbagai saluran televisi berbayar. Selain itu juga menjadi tempat suting beberapa film ternama. Nasir mengatakan Batam dinilai potensial sebagai pusat pengembangan bidang digital ekonomi, karena Batam adalah kawasan industri yang permintaan sangat tinggi dari perusahaan-perusahaan Singapura dan Malaysia.

Para pengusaha pemula dari Indonesia inilah yang harus disiapkan sebagai penyedia. Menurutnya, jika NDP bisa berkembang maka seluruh dunia pun akan tertarik bekerja sama.

“Kami berharap NDP dapat menjadi tempat berkumpulnya para startup di bidang digital ekonomi. Untuk itu akan ada proses penandatanganan MoU dengan NUS dan Politeknik di Singapura pada 7 September nanti,” ujar mantan Rektor Universitas Diponegoro ini.

Nasir menjelaskan hal itu merupakan bagian dari rencana besar untuk mengembangkan Batam sebagai sektor ekonomi digital Indonesia. MoU ini akan ditanda tangani pada waktu Indonesia dan Singapura memperingati 50 tahun hubungan diplomatik yang akan dihadiri oleh Presiden Jokowi di Singapura.

Kawasan ini, imbuh Nasir, bisa menjadi laboratorium mahasiswa untuk melakukan praktik langsung di lapangan. Terutama untuk mahasiswa yang meminati bidang animasi dan perfilman. Pihaknya siap memangkas regulasi yang justru menghambat perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

“Dengan ada kawasan seperti ini tentu akan mendukung industri kreatif Indonesia. Nah, SDM yang membuat studio film dan animasi level dunia seperti ini bisa didapat dari Politeknik Negeri Batam. Buktinya lulusan Politeknik Negeri Batam banyak yang sudah bekerja disini. Saling berkolaborasi,” katanya.

Sementara itu, perwakilan dari Citramas Group, Kris Willuan, mengatakan bahwa hasil produksi nantinya ingin dikembangkan lebih banyak tentang karakteristik budaya Indonesia. “Kami mulai mengembangkan animasi mengenai budaya dan cerita khas Indonesia. Ke depannya akan diperbanyak konten tentang kearifan budaya Indonesia,” tutur Kris. (rp/gbi)