Menunggu Arief Hidayat Mundur dari Jabatannya Sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi

oleh
Ketua Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat.

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Arief Hidayat resmi dinyatakan bersalah dan dijatuhi sanksi karena bertemu dengan anggota DPR secara tidak resmi. Hukuman atas kesalahan ini merupakan yang kedua bagi Arief Hidayat. Sebelumnya ia pernah dinyatakan bersalah dan mendapat sanksi terkait katabelece ke pejabat Kejagung. Jika Arief Hidayat seorang hakim yang berintegritas, tentu tak akan menunggu kesalahan dan sanksi ketiga datang untuk mundur dari jabatannya.

“Hakim yang kita bicarakan (Arief Hidayat-red) akan memutuskan konstitusi undang-undang dan juga menjelang Pilkada dan Pemilu untuk menyelesaikan sengketa. Menurut saya, berbahaya kalau punya hakim MK yang perilakunya seperti ini, nanti legitimasi kurang karena yang orang ingat dia punya problem etik,” kata pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Bivitri Susanti, tadi malam.

(Baca Juga: Mahkamah Konstitusi Tolak Uji Materi Presidential Threshold)

“Ini (sanksi terhadap Ketua MK) sama sekali tidak tepat karena standar hakim sangat tinggi,” tambahnya.

Bivitri mengatakan, kredibilitas Mahkamah Konstitusi bisa tercoreng karena pelanggaran etik yang dilakukan Arief. Apalagi, saat tahun politik ini, bukan tak mungkin Arief akan memutuskan aneka sidang sengketa Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Untuk diketahui, sanksi kedua yang diberikan terhadap Arief Hidayat ini disebabkan pertemuannya dengan anggota Komisi III DPR jelang fit and proper test hakim MK di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta Pusat. Atas perbuatannya itu, Arief dikenai sanksi lisan oleh Dewan Etik.

“Saya sendiri mengusulkan untuk ditetapkan untuk melakukan pelanggaran berat. Tetapi saya tidak sendiri bisa memutuskan sehingga dalam keputusan bersama dengan melihat alat bukti dan keyakinan,” ujar Ketua Dewan Etik, Achmad Roestandi di gedung MK, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, kemarin.(dtc/ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *