Merajut Masa Depan Bangsa dari Benang Sejarah

oleh

GLOBALINDO.CO, MOJOKERTO – Pembangunan sumber daya manusia yang bermartabat, berakhlak mulia dan kompetitif menghadapi kemajuan jaman sejatinya menjadi tanggung jawab setiap anak bangsa, terutama lembaga pendidikan. Berpijak pada prinsip itu, Pondok Pesantren Segoro Agung, Trowulan, Mojokerto menggelar ‘Sinau Bareng’ bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng serta Jamaah Maiyah –sebutan untuk majelis asuhan Cak Nun- di Kompleks Makam Syeh Jumadil Kubro, Troloyo pada Rabu, 21 Februari 2018.

Dengan tema “Belajar Sejarah sebagai Pijakan Membangun Indonesia yang Lebih Maju dan Rahmatan Lil ‘Alamin”, Ponpes Segoro Agung sengaja ingin terlibat aktif dalam perjuangan Cak Nun bersama Jama’ah Maiyah untuk membangun karakter bangsa yang memahami jati dirinya. Karena dari pemahaman jati diri yang tidak bisa lepas dari sejarah itulah, generasi muda bisa menanamkan nilai, karakter dan sikap hidup luhur yang sudah diwariskan oleh nenek moyang bangsa nusantara.

Nilai-nilai seperti itu selalu digemakan Cak Nun di setiap kesempatan bertatap muka dengan masyarakat maupun di majelis Maiyahan. Tokoh yang menghabiskan lebih dari separuh usianya ini mengibaratkan bangsa yang selalu belajar dari sejarah (memahami sejarah leluhurnya) sebagai pijakan untuk merajut masa depan seperti anak panah yang ditarik kuat ke belakang sebelum dilepaskan agar melesat cepat dan jauh ke depan.

Maka, ketika anak bangsa mengenal jati dirinya sebagai bangsa nusantara yang berani, tegas, konsekuen dan selalu mengedepankan sikap guyub (tidak egois) di kehidupan sosial, maka mereka akan lebih mudah membangun masa depan bangsa yang berkarakter kuat dan menjadi mercusuar dunia.

Hikmah besar dari sejarah leluhur ini pula yang ditangkap pengasuh dan pengurus Yayasan Ponpes Segoro Agung. Tidak salah apabila ponpes yang berlokasi di Jalan Syeh Jumadil Kubro, tepatnya di belakang Kompleks Makam Troloyo di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto ini bersemangat mengundang Cak Nun dan kelompok gamelan Kiai Kanjeng untuk Sinau Bareng tentang sejarah dalam rangka memperingati Milad ke-IV pada Rabu, 21 Februari 2018.

Meski sebagai penyelenggara, pihak Segoro Agung tidak mau acara Sinau Bareng ini disebut sebagai agenda ponpes semata untuk peringatan hari jadinya. Pihak Yayasan Segoro Agung menyatakan kegiatan ini juga milik Jama’ah Maiyah.

Karena ratusan bahkan bisa mencapai ribuan jamaah Maiyah selalu antusias mengikuti safari Sinau Bareng Cak Nun di berbagai daerah. Yayasan ingin kegiatan yang akan dimulai Pukul 20.00 WIB ini menjadi media pembelajaran untuk santri Segoro Agung bersama Cak Nun dan Jama’ah Maiyah. Untuk itulah, Yayasan mengajak Simpul Maiyah yang berada di Mojokerto, Paseban Majapahit, terlibat langsung guna mensukseskan kegiatan ini.

Selain menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada santri, konsep Sinau Bareng ini oleh pihak Yayasan Ponpes Segoro Agung kemudian dijadikan media bagi para santri,  umumnya peserta didik pesantren di seluruh Indonesia untuk mengenal dan memahami program  Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga yang diluncurkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Yayasan Segoro Agung menggandeng BKKBN untuk memberikan informasi dan edukasi seputar Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

BKKBN memang sedang gencar mensosialisasikan program KKBPK ini ke seluruh lapisan masyarakat di setiap kota/kabupaten. Program ini bertujuan meningkatkan akses dan pelayanan KB yang merata serta berkualitas.

Yang terkait erat dengan konsep Sinau Bareng ala Maiyah adalah program ini bertujuan meningkatkan pembinaan ketahanan remaja agar tidak mudah terbawa arus dan pengaruh buruk era global. Selain itu juga untuk meningkatkan pembangunan keluarga yang rukun dan sejahtera. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *