Merica Bubuk Cap Dua Lombok Ternyata Berbahan Karak

oleh
Terdakwa kasus merica bubuk oplosan Cap Dua Lombok, Djeffry Amanta membantah produk usahanya tak punya izin edar.

GLOBALINDO.CO, SURABAYA – Kesaksian Ardhita menyebut merica bubuk cap Dua Lombok yang produksi tempat usaha milik terdakwa Djeffry Amanta berbahan oplosan 5 kilogram karak dan hanya 1 kilogram merica. Selain itu, merica bubuk cap Dua Lombok juga tak mengantongi izin edar.

“Merica bubuk berbahan dari karak. Takaranya 1Kg merica, 5Kg karak. Dan sudah di edarkan keluar daerah, Kalimantan dan Sulawesi,” kata saksi Ardhita diruang sidang Garuda II PN Surabaya. Senin (19/2). Pada sidang ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya, Kisno menghadirkan dua saksi, Ardhita dan Suryanto. Keduanya merupakan anggota Polrestabes Surabaya yang menggerebek tempat produksi merica oplosan cap Dua Lombok.

Saat dikonfirmasi majelis hakim soal kesaksian Ardhita tadi, terdakwa Djeffry mengelaknya. Terdakwa mengaku sudah mengantongi ijin edar serta perederan merica bubuk yang hanya dijual di kawasan Surabaya.

“Saya hanya menjual di sekitar Surabaya, untuk ijin edar saya sudah memilikinya dan surat ijinya ada pada mobil saya,” ujar terdakwa Djeffry Amanta tanpa memperlihatkan ijin edar di hadapan Majelis Hakim.

Di akhir persidangan, Hakim Anggota Deddy Fardiman sempat menegur Jaksa Penuntut Umum, Kisno karena tidak bisa menunjukkan barang bukti Karak yang dijadiakn campuran merica bubuk cap Dua Lombok. Tak hanya itu, Hakim Deddy juga meminta JPU dalam sidang pekan depan untuk menghadirkan saksi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengatahui isi kandungan dari produk merica bubuk cap Dua Lombok yang diduga mengandung zat berbahaya.

Dalam dakwaan, pembuatan bubuk merica Cap Dua Lombok oleh terdakwa adalah dengan cara menggiling merica dan karak Satu banding lima. Dengan takaran, 1Kg merica di campur 5Kg karak. Setelah itu lantas di kemas berbentuk rool dengan berat 40 gram dan diberi cap Dua Lombok. Tak hanya itu, bubuk merica yang sudah di pasarkan diduga tak memiliki ijin.

Pada kemasan merica bubuk cap Dua Lombok tertulis bahan dasar dari merica dan tepung beras. Dari hasil itu, terdakawa meraup keuntungan Rp. 15 juta per bulan.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerap Pasal 142 Jo pas 91 ayat (1) UU RI No. 18 Tahun 2012 Tentang Tindak Pidana Peredaran Pangan yang tak memilik ijin edar. (ady)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *