Meski Elektabilitas Tinggi, 50 Persen Responden Tak Dukung Jokowi

Presiden Joko Widodo memberikan sambutan di acara silaturahmi nasional relawan pendukug Jokowi beberapa waktu lalu.

 

GLOBALINDO.CO, JAKARTA – Elektabilitas tinggi tak menjamin calon presiden atau kepala daerah meraup dukungan besar dari rakyat. Gambaran ini bisa dilihat dari hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pada September lalu, yang menujukkan 50 persen publik ternyata tidak mau mendukung Presiden Joko Widodo jika pIlpres digelar bulan itu, meskipun elektabilitas calon incumbent tercatat tinggi, mengungguli tokoh lain.

“Kami juga menanyakan tentang pilihan Presiden bila pemilu dilakukan di hari saat pertanyaan diajukan. Responden yang memilih Jokowi 44,9 persen, sementara yang memilih opsi jawaban selain Jokowi ada 48,9 persen, dan sisanya tidak menjawab,” kata Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, melalui keterangan tertulisnya.

Diketahui, pada survei lain yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) , elektabilitas Jokowi sebagai capres 2019 unggul jauh di atas dua tokoh potensial yakni Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono. Elektabilitas Jokowi ada di angka 45,6 persen.

Sementara Ketua Umum (Ketum) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto hanya 18,7 persen disusul Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 3,9 persen. Adapun nama lain masih di bawah 2 persen. (Baca: Jika Pilpres Hari Ini, Jokowi Jauh Ungguli Prabowo dan SBY).

Hendri melanjutkan, sejumlah nama yang muncul dari responden di antaranya Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.Selain itu, Wali Kota Surabaya,  Tri Rismaharini dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menurut Hendri, hasil survei tersebut juga berpengaruh terhadap pilihan partai politik di 2019. Disebutkan bahwa sebanyak 53,5 persen menjawab tidak akan memilih parpol pengusung Jokowi.

“Dan hanya 41,3 persen responden yang mengaku akan memilih partai politik pengusung Jokowi pada 2019 nanti. Sisanya memilih untuk tidak menjawab,” kata Hendri.

Hasil ini diketahui berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pada 8 hingga 27 September 2017. Survei dilakukan di delapan kota yakni Medan, Padang, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Jakarta kecuali Kepulauan Seribu.

Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka. Adapun margin of error (MoE) sekitar 3,5 persen. (Baca: Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Belum Dongkrak Ekonomi Rakyat). (kc/bmb)